Perbandingan dengan Bansos di Negara Maju
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, membandingkan penggunaan bansos di Indonesia dengan negara maju. Di negara maju, masyarakat sering menggunakan bantuan tunai untuk peningkatan keahlian, seperti mengikuti pelatihan. Sementara di Indonesia, bansos masih menghadapi masalah ketidaktepatan sasaran.
Bhima juga mengkritik konsep penciptaan lapangan kerja pemerintah yang dinilai belum jelas. Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan food estate justru diisi oleh militer dan polisi, sehingga tidak menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat umum.
Dampak Bansos Konsumtif terhadap Produktivitas Nasional
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai bahwa program sosial di Indonesia masih terlalu mengedepankan pendekatan konsumsi. Hal ini menjadi salah satu penyebab sulitnya pertumbuhan ekonomi Indonesia melampaui 5%. Pendekatan konsumtif mungkin menguntungkan secara politik, tetapi berdampak buruk bagi produktivitas dan mental juang masyarakat.
Wijayanto menyarankan agar bantuan pemerintah ke depan lebih difokuskan pada proyek infrastruktur seperti pembangunan jalan, irigasi, dan sektor padat karya yang dapat menciptakan lapangan kerja berkelanjutan.
Kesimpulan: Menuju Bansos yang Memberdayakan
Zulhas menegaskan bahwa bansos tetap memiliki manfaat, namun bentuk bantuan seperti beras dan uang tunai hanya berdampak jangka pendek. Untuk memajukan Indonesia, peningkatan produktivitas masyarakat adalah kunci. Dengan mengubah paradigma bansos dari konsumtif menjadi produktif, diharapkan rakyat Indonesia tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga pelaku ekonomi yang mandiri dan berdaya saing.
Artikel Terkait
Danantara Siap Ambil Porsi Saham BEI, Investasi Aktif Sudah Dimulai
IBC Soroti Enam Langkah Kunci untuk Jaga Stabilitas Pasar Modal
Rosan Roeslani Pasang Target: IHSG Diprediksi Bangkit di Awal Pekan
Delapan Langkah Darurat Disepakati untuk Redam Gejolak Pasar Modal