STAA (Sumber Tani Agung Resources) Catat Pendapatan Rp2,97 Triliun Hingga Triwulan III 2025
PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) meraih kinerja keuangan yang kuat dengan pendapatan mencapai Rp2,97 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun 2025. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, yaitu 72,3 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2024.
Faktor Pendongkrak Pendapatan dan Profitabilitas STAA
Pertumbuhan luar biasa ini didorong oleh beberapa faktor kunci. Peningkatan harga jual produk utama seperti CPO, inti kelapa sawit (PK), dan minyak inti kelapa sawit (CPKO) memberikan kontribusi besar. Selain itu, kehadiran kilang hilirisasi, PT Sumber Tani Agung Oils & Fats (STAOF), mulai memberikan kontribusi signifikan melalui penjualan produk olahan bernilai tambah sebanyak 74.993 ton.
Strategi hilirisasi STAA terbukti berhasil memperkuat profitabilitas. Laba kotor perusahaan melonjak 62 persen (year-on-year) menjadi Rp1,02 triliun, dengan margin laba kotor yang sehat di level 34,4 persen.
Kinerja Kumulatif dan Operasional yang Solid
Secara kumulatif hingga 9M25, pendapatan STAA mencapai Rp6,56 triliun, tumbuh 48,5 persen. EBITDA juga naik 35 persen menjadi Rp2,01 triliun, yang mencerminkan efisiensi biaya dan operasional yang stabil. Laba bersih yang dibukukan adalah Rp1,35 triliun, dengan pertumbuhan 42,3 persen (YoY).
Dari sisi operasional, produksi Tandan Buah Segar (TBS) tumbuh 3,4 persen menjadi 803.901 ton. Produksi CPO dan PK juga meningkat masing-masing 12,6 persen dan 16,5 persen. Peningkatan ini didukung oleh operasional PKS ke-10 dan perluasan kapasitas pabrik kernel crushing.
Momentum Hilirisasi dan Ekspor Perdana
Momentum hilirisasi STAA semakin kuat dengan ekspor perdana 9.000 ton RBD Palm Olein melalui jetty internal di fasilitas refinery STAOF, Dumai, pada Juli 2025. Langkah ini menegaskan posisi STAA sebagai produsen kelapa sawit terintegrasi dengan kemampuan ekspor langsung.
Fokus utama perusahaan sepanjang 2025 adalah mengoptimalkan kapasitas hilir melalui operasional penuh refinery STAOF di Dumai. Hal ini diharapkan dapat semakin memperkuat posisi STAA dalam rantai nilai industri kelapa sawit nasional, meningkatkan diversifikasi produk, dan nilai tambah ekspor.
Dengan fondasi keuangan yang kuat dan infrastruktur terintegrasi, STAA berkomitmen untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi semua pemegang saham dan pemangku kepentingannya.
Artikel Terkait
Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
IPCM Alokasikan Rp74 Miliar untuk Pengadaan Kapal Baru pada 2026
PGUN Kejar Target Free Float 12,5 Persen pada 2027, Siapkan Skema Pelepasan Saham Bertahap
Analis Proyeksi Dividen Spesial AADI Menguat Seiring Kemajuan Divestasi Kestrel, Meski Biaya Operasional Membebani