Mengapa Produk Solder RI Kalah Murah dari Malaysia? Ini Jawaban Mengejutkan Wakil Menteri

- Selasa, 28 Oktober 2025 | 13:48 WIB
Mengapa Produk Solder RI Kalah Murah dari Malaysia? Ini Jawaban Mengejutkan Wakil Menteri

Daya Saing Produk Hilirisasi Indonesia Masih Kalah dari Malaysia

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi BKPM, Todotua Pasaribu, mengungkapkan bahwa daya saing produk hilirisasi Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara tetangga, khususnya pada produk olahan timah.

Insentif Fiskal Kunci Daya Saing Investasi

Todotua menekankan bahwa competitiveness menjadi faktor utama dalam peningkatan investasi. Menurutnya, hal ini dapat didorong melalui insentif fiskal seperti tax holiday.

Masalah insentif ini menjadi tantangan serius dalam peningkatan investasi Indonesia. Sebagai contoh, industri pengolahan komoditas timah meskipun memiliki bahan baku melimpah di dalam negeri, namun harga produknya masih kalah bersaing dengan Malaysia.

Produk Solder Malaysia Lebih Murah

"Raw material-nya di kita, tier satu hilirisasinya, smelternya di kita. Kemudian barang ini masuk ke bursa, kemudian diambil oleh pabrikan solder di Malaysia dan diambil oleh pabrikan solder di Indonesia," jelas Todotua dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia.

"Apa yang terjadi? Harga solder dari Malaysia dia impor masuk ke sini harganya lebih murah daripada harga produksi," imbuhnya.

Strategi Fiskal Malaysia Lebih Unggul

Produk solder timah dari Malaysia lebih murah dan kompetitif karena didukung strategi fiskal yang lebih baik. Sementara Indonesia masih mengenakan pajak berlapis dari hulu hingga hilir pertambangan.

"Tambang kita kenapa pajak, masuk ke tier 1 kena pajak, keluar naik ke bursa kenapa pajak, dari bursa turun ke buyer-nya pabrik solder atau tin chemical kenapa pajak, jual lagi kenapa pajak," ungkap Todotua.

Upaya Relaksasi Kebijakan Fiskal

Untuk mengatasi ketimpangan daya saing produk olahan tambang, Todotua sedang meminta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan relaksasi kebijakan fiskal.

"Kita ini sekarang Kementerian Investasi progres aktif, kita bicara dengan Kementerian Keuangan beberapa hal strategis yang memang kita mintakan untuk bagaimana kita memitigasi supaya ini menjadi kompetitif," jelas Todotua.

Perbaikan Ekosistem Investasi

Beberapa aspek yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan daya saing industri hilirisasi Indonesia meliputi perizinan, regulasi, ekosistem tenaga kerja, energi, dan rantai pasok.

Siklus Investasi Indonesia vs Vietnam

Todotua menyoroti perbandingan siklus investasi Indonesia dengan Vietnam. "Vietnam hari ini cycle investasi mereka itu 1,5-2 tahun. Di kita, cycle investasi kita itu kurang lebih masih di angka 4-5 tahun, 2 tahun dia konstruksi. Ini PR besar," katanya.

Reformasi Perizinan melalui PP No. 28/2025

Pembenahan perizinan sedang diupayakan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Saat ini sudah ada 132 perizinan yang bersifat fiktif positif.

Izin fiktif positif merupakan ketentuan dimana jika permohonan perizinan tidak ditindaklanjuti dalam jangka waktu tertentu, maka dianggap disetujui secara hukum.

Percepatan Perizinan Hotel

Sebagai contoh keberhasilan reformasi, pengajuan perizinan hotel sudah dipangkas menjadi hanya 28 hari. Hal ini didukung pelaksanaan perizinan yang dapat berjalan paralel dengan pembangunan konstruksi.

"Kita punya perizinan yang berisiko besar seperti itu tadi ada beberapa persoalan klasik seperti tata ruang, izin lokasi, amdal dan PPB. Tidak menghilangkan esensinya, tetapi kita melakukan sekarang strateginya paralel," jelas Todotua.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar