Harga Minyak Mentah Dunia Melemah, OPEC Rencanakan Kenaikan Produksi
Harga minyak mentah dunia ditutup melemah pada perdagangan Senin (27/10). Penurunan harga minyak ini terutama dipicu oleh rencana OPEC dan sekutunya (OPEC ) untuk kembali menaikkan produksi minyak secara moderat. Rencana kenaikan produksi minyak ini berhasil menekan sentimen positif dari harapan kesepakatan dagang AS-China serta sanksi baru Amerika Serikat terhadap Rusia.
Data Harga Minyak Mentah: Brent dan WTI
Berdasarkan data dari Reuters, harga minyak mentah acuan global, Brent, tercatat turun sekitar 32 sen atau hampir 0,5 persen menjadi USD 65,62 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga melemah 19 sen atau 0,3 persen ke posisi USD 61,31 per barel. Kedua kontrak minyak sempat mengalami penurunan lebih dalam, sekitar 1 persen, di awal sesi perdagangan.
Faktor Penekan Harga: Rencana Produksi OPEC dan Pangsa Pasar
Delapan negara anggota OPEC dilaporkan cenderung sepakat untuk menaikkan kembali produksi minyak mereka pada bulan Desember. Sentimen pasar minyak juga tertekan oleh dorongan dari Arab Saudi yang berupaya merebut kembali pangsa pasarnya. Kebijakan produksi OPEC ini menjadi berita utama yang mempengaruhi pergerakan harga komoditas energi.
Sentimen Positif dari Perundingan Dagang AS-China
Di sisi lain, pasar mendapatkan sentimen positif dari rencana pertemuan Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, yang dijadwalkan pada Kamis (30/10). Pertemuan ini dinilai dapat menghasilkan langkah-langkah yang menunda kenaikan tarif AS lebih lanjut dan pembatasan ekspor rare earth dari China, sehingga meredakan ketegangan perang dagang yang berlarut-larut.
Seorang analis pasar, Dennis Kissler dari BOK Financial, mengonfirmasi bahwa harga minyak sedang beristirahat setelah reli tajam pekan sebelumnya, menunggu hasil negosiasi perdagangan antara kedua negara adidaya tersebut.
Kekhawatiran Permintaan dan Penahan Penurunan Harga
Kekhawatiran akan lemahnya permintaan minyak global juga turut membebani pasar. Harga Brent bahkan sempat menyentuh level terendah sejak Mei di awal bulan. Namun, penurunan yang lebih dalam berhasil dicegah oleh dua faktor utama: pemberian sanksi baru AS terhadap Rusia dan data permintaan minyak AS yang ternyata lebih kuat dari perkiraan awal. Chris Beauchamp dari IG Bank menegaskan bahwa harapan bagi pihak optimis terletak pada konsumsi AS yang terus membaik.
Update Harga Komoditas Lain: CPO, Batu Bara, Nikel, dan Timah
Harga CPO
Harga Crude Palm Oil (CPO) untuk kontrak Desember justru mengalami kenaikan sebesar 0,11 persen, menguat ke level MYR 4.359 per ton menurut data Barchart.
Harga Batu Bara
Sementara itu, harga batu bara berjangka Newcastle juga menunjukkan penguatan. Untuk kontrak November, harga batu bara naik 0,70 persen ke level USD 108,50 per ton.
Harga Nikel
Berbeda dengan tren sebelumnya, harga nikel mengalami penurunan. Data dari London Metal Exchange (LME) mencatat harga nikel turun 0,01 persen ke level USD 15.361 per ton.
Harga Timah
Komoditas timah mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan harga sebesar 0,47 persen. Berdasarkan data LME, harga timah terkini berada pada level USD 35.970 per ton.
Artikel Terkait
OJK Dukung KEK Keuangan di Bali untuk Percepat Pendalaman Pasar Modal Nasional
Adhi Karya Rombak Jajaran Komisaris dan Direksi, Angkat Alexander Ruby Setyoadi sebagai Komisaris Baru
Wall Street Bertahan di Dekat Rekor Tertinggi, Harga Minyak Anjlok Imbas Harapan Kesepakatan AS-Iran
Hanya Dua dari Enam Emiten Grup Prajogo Pangestu Penuhi Aturan Free Float 15 Persen