Laba IPCC Kontraksi 9,3 Persen Akibat Tekanan Geopolitik dan Impor Kendaraan Melambat

- Selasa, 28 Juli 2026 | 05:20 WIB
Laba IPCC Kontraksi 9,3 Persen Akibat Tekanan Geopolitik dan Impor Kendaraan Melambat

PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) membukukan laba bersih Rp103,28 miliar pada semester I-2026, turun 9,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kontraksi laba ini dipicu oleh tekanan geopolitik global dan perlambatan impor kendaraan nasional.

Meski laba menurun, perseroan mampu mempertahankan margin laba bersih sebesar 24,98 persen berkat efisiensi operasional dan pengelolaan biaya yang ketat. Eskalasi konflik di Timur Tengah disebut sebagai faktor utama yang mengganggu rantai pasok industri otomotif global, meningkatkan biaya logistik internasional, dan memperlambat impor kendaraan di Indonesia.

Direktur Operasi dan Teknik merangkap Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama IPCC, Bagus Dwipoyono, menjelaskan bahwa kondisi tersebut berdampak langsung pada Terminal Internasional IPCC di Jakarta, yang berkontribusi sekitar 87 persen terhadap pendapatan konsolidasian. Meski demikian, ia menilai tekanan ini bersifat sementara.

“Kami tidak menutup mata bahwa situasi geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah dan pelemahan impor otomotif nasional, turut memberi tekanan pada kinerja Terminal Internasional yang menjadi tulang punggung pendapatan IPCC. Namun kami meyakini ini adalah tantangan jangka pendek yang lumrah dihadapi industri logistik kendaraan global,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (27/7/2026).

Bagus menegaskan, perseroan akan terus memperkuat efisiensi operasional, mengoptimalkan kapasitas terminal, serta mengembangkan layanan bernilai tambah melalui strategi Integrated Auto Solutions guna menjaga daya saing bisnis.

Direktur Keuangan, SDM dan Manajemen Risiko IPCC, Wing Megantoro, menambahkan bahwa kondisi keuangan perseroan tetap sehat dengan status debt free company. Hingga akhir Juni 2026, total aset tercatat stabil sebesar Rp2,04 triliun, sementara aset lancar meningkat 4,01 persen menjadi Rp1,218 triliun dari Rp1,171 triliun pada akhir 2025.

“Dalam menghadapi kondisi pasar yang dinamis, IPCC terus memperkuat disiplin pengelolaan biaya melalui program efisiensi yang terukur dan berkelanjutan, sehingga alokasi anggaran difokuskan pada aktivitas yang memberikan dampak langsung terhadap keberlangsungan operasional, peningkatan pendapatan berbasis inovasi bisnis serta berorientasi pada kepuasan pelanggan,” tuturnya.

Wing menilai, likuiditas yang kuat dan kapasitas perseroan dalam menjaga keberlanjutan operasional sekaligus mendukung pengembangan bisnis ke depan tercermin dari kondisi aset lancar yang meningkat.

Saham IPCC ditutup melemah 5,4 persen ke Rp1.140 pada perdagangan Senin (27/7/2026). Pelemahan tersebut merupakan respons terhadap kinerja keuangan terkini anak usaha PT Pelindo Multi Terminal tersebut.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags