Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menandatangani sejumlah kerja sama dengan Menteri Perdagangan dan Industri Rusia Anton Alikhanov di sela-sela INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rabu (8/7). Kesepakatan ini bertujuan memperluas jaringan pasar industri domestik Indonesia ke Rusia dan kawasan Eurasia.
“Indonesia membawa agenda industri yang tegas, yaitu mempercepat hilirisasi mulai dari mineral kritis dan manufaktur maju, hingga energi, ketahanan pangan, dan kawasan industri,” ujar Agus usai pertemuan bilateral. Ia menegaskan optimisme untuk memperdalam kemitraan teknologi dengan Rusia serta mengintegrasikan manufaktur bernilai tambah tinggi ke dalam pasar Eurasia.
Sektor manufaktur atau industri pengolahan (IP) menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan sektor IP pada triwulan I 2026 mencapai 5,04 persen, lebih tinggi dibanding periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 4,55 persen. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 19,07 persen atau setara Rp 1.179,62 triliun.
Kinerja positif juga terlihat dari realisasi investasi triwulan I 2026, di mana sektor IP menyumbang 36,49 persen atau Rp 182,04 triliun. Sektor ini menyerap 20,04 juta tenaga kerja per Februari 2026. Pada perdagangan internasional, ekspor IP pada Januari–Februari 2026 mendominasi hingga 83,61 persen dengan nilai Rp 622,68 triliun.
Hubungan ekonomi Indonesia-Rusia menunjukkan perkembangan signifikan. Nilai total perdagangan bilateral tumbuh 5,4 persen menjadi USD 4,8 miliar pada 2025. Ekspor Indonesia ke Rusia melonjak 7,5 persen menjadi sekitar USD 1,8 miliar. Komoditas ekspor utama meliputi karet, kopi, coklat, teh, alas kaki, komponen elektronik, dan produk kimia. Sementara itu, Indonesia mengimpor pupuk, besi, baja, sereal, kimia organik, dan pesawat terbang dari Rusia.
Forum Bisnis Indonesia-Rusia mengangkat tiga topik kunci: proyek industri bersama, peluang investasi bagi perusahaan industri di Rusia dan Indonesia, serta alat dan mekanisme dukungan bagi eksportir. “Saya yakin forum hari ini akan membawa kedua negara, khususnya sektor industri, dapat berkolaborasi secara konkret melalui inisiasi proyek-proyek kerja sama yang saling menguntungkan dan berkelanjutan,” ungkap Agus.
Tujuh MoU di Sektor Industri
Kedua negara sepakat menandatangani tujuh dokumen perjanjian atau Memorandum of Understanding (MoU) baru di bidang industri. Dokumen tersebut meliputi kerja sama antara Kementerian Perindustrian Indonesia dengan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia.
Selain itu, ditandatangani lima dokumen kerja sama teknis dan komersial yang melibatkan pelaku usaha seperti Ikatan Perusahaan Industri Galangan Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO), PT PCM Kabel Indonesia, PT Athira Maritim Indonesia, Perkumpulan Industri Komponen Kapal Indonesia (PIKKI) bersama United Industrial Corporation AK Bars, MoU antara PT Minang Jordanindo dengan CHETRA LLC, serta nota kesepahaman antara Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia dengan Association of Clusters and Technology Parks, and SEZs of the Russian Federation (ACTPRF).
Kerja sama baru ini melengkapi dua MoU terdahulu yang telah berjalan sejak Desember 2025 di bidang galangan kapal dan studi krisotil asbestos. “Peran Indonesia sebagai partner country diharapkan dapat menjadi landasan kuat untuk membangun kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan, baik bagi Indonesia dan Rusia maupun pada skala global, di tengah tantangan geoekonomi dan geopolitik,” tutup Agus.
Artikel Terkait
HKI Siap Jadi Mitra Strategis Investor Rusia di Indonesia
Indonesia dan Rusia Dorong Penguatan Sistem Pembayaran Mata Uang Lokal
Forum Diskusi Peradaban Dorong Hilirisasi Generasi Kedua dengan Indeks Nasional Berkelanjutan
Pemerintah Benahi Iklim Investasi dan Kebijakan TKDN untuk Tarik Investor, Termasuk dari Rusia