Pemerintah Benahi Iklim Investasi dan Kebijakan TKDN untuk Tarik Investor, Termasuk dari Rusia

- Rabu, 08 Juli 2026 | 07:12 WIB
Pemerintah Benahi Iklim Investasi dan Kebijakan TKDN untuk Tarik Investor, Termasuk dari Rusia

Pemerintah terus berupaya memperbaiki iklim investasi dan kemudahan berusaha guna menarik lebih banyak investor, termasuk dari Rusia. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan salah satu langkah yang ditempuh adalah transformasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar lebih efisien, adaptif, dan mampu meningkatkan daya saing industri nasional.

Agus mengatakan pemerintah sadar setiap negara berlomba menciptakan iklim investasi yang kompetitif. Karena itu, Indonesia melakukan berbagai reformasi kebijakan agar dunia usaha mendapat kepastian dan kemudahan dalam berinvestasi.

“Indonesia sesuai arahan Bapak Presiden memang terus-menerus mencoba dan berusaha agar investment climate dan business climate di Indonesia itu semakin baik,” kata Agus kepada wartawan di sela rangkaian kegiatan INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, Selasa (7/7).

Reformasi tersebut, menurut Agus, menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi manufaktur. Selain pembenahan regulasi, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang menjadi nilai jual di mata investor.

Salah satunya pasar domestik yang besar dan mampu menopang pertumbuhan industri jangka panjang. Namun, Agus menekankan keunggulan itu harus dimanfaatkan untuk memperkuat industri nasional, bukan sekadar menjadi pasar bagi produk impor.

“Kita punya market yang besar sekali. Market yang besar itu harus kita eksploitasi dalam konteks perlindungan industri dalam negeri supaya industri kita bisa semakin tumbuh dan produk-produk kita menjadi tuan rumah di market sendiri,” ujarnya.

Selain pasar domestik, Agus menyebut Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang semakin kompetitif. Kombinasi ini diyakini mampu menarik investor yang ingin membangun basis produksi di Indonesia.

Kebijakan Lokalisasi Industri

Agus mengatakan pemerintah juga mendorong kebijakan lokalisasi industri agar investasi asing tidak berhenti pada aktivitas perdagangan, tetapi berlanjut pada pembangunan fasilitas produksi di dalam negeri. Strategi ini akan memperkuat pendalaman struktur industri nasional, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan penggunaan komponen lokal, serta menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian.

Ia menekankan pentingnya kebijakan lokalisasi industri dan pendalaman struktur manufaktur. Menurutnya, banyak negara dengan ukuran pasar lebih kecil dari Indonesia justru telah lebih dulu mendorong lokalisasi produksi untuk memperkuat industri nasional dan menciptakan lapangan kerja.

“Negara yang potensi market-nya jauh lebih kecil dari Indonesia saja sudah mengarah kepada lokalisasi. Artinya mereka sudah melakukan pendalaman struktur industri di negaranya masing-masing. Seharusnya kita juga lebih berkomitmen melakukan itu di negara kita,” ujarnya.

Agus menegaskan Indonesia ingin kerja sama dengan Rusia tidak berhenti pada hubungan dagang semata. Pemerintah mendorong agar hubungan kedua negara berkembang menjadi kemitraan industri yang menghasilkan investasi, alih teknologi, penguatan rantai pasok, hingga penciptaan nilai tambah di kedua negara.

“Investment itu dipengaruhi banyak faktor. Yang penting adalah apa yang bisa ditawarkan Indonesia, sehingga investor tertarik masuk dan membangun industri di Indonesia,” katanya.

Partisipasi Indonesia sebagai Official Partner Country di INNOPROM 2026 juga menjadi momentum mempererat hubungan ekonomi kedua negara. Pada 2025, nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Rusia tercatat mencapai USD 1,876 miliar, sementara realisasi investasi Rusia di Indonesia mencapai USD 262,8 juta.

Pemerintah berharap hubungan ekonomi tersebut terus meningkat seiring semakin eratnya kerja sama strategis kedua negara di sektor industri, investasi, energi, dan manufaktur.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags