Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa status Indonesia sebagai partner country pada pameran industri Innoprom 2026 di Yekaterinburg, Rusia, menjadi momentum strategis untuk memperkuat kerja sama di bidang manufaktur, perdagangan, investasi, dan transfer teknologi dengan negara-negara Eurasia. Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin bahkan menyambut baik partisipasi Indonesia dan berharap hal ini dapat memperluas akses pasar ke kawasan tersebut.
Agus mengungkapkan apresiasi Mishustin terhadap Paviliun Indonesia yang dinilai mampu menampilkan kualitas industri nasional. "Beliau menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya. Bukan hanya paviliunnya yang sangat baik, tetapi juga perusahaan-perusahaan dan eksportir yang kami tampilkan dinilai sangat menarik," ujarnya di sela-sela Innoprom 2026, Senin (6/7).
Pemerintah Indonesia juga memanfaatkan ajang ini untuk menggelar serangkaian pertemuan bilateral dengan para menteri industri dari berbagai negara Eurasia. Menurut Agus, kerja sama akan semakin terbuka setelah Indonesia dan negara-negara anggota Eurasia menandatangani perjanjian kerja sama ekonomi yang disebutnya sebagai game changer. "Kami sama-sama memiliki satu platform, yaitu perjanjian yang baru ditandatangani antara Indonesia dan Eurasia. Ini merupakan game changer untuk mempercepat dan memperkuat kerja sama," katanya.
Kawasan Eurasia memiliki potensi pasar yang besar dengan hampir 200 juta penduduk berpendapatan per kapita relatif tinggi. Hal ini membuka peluang ekspor produk manufaktur Indonesia semakin luas. Namun, Agus menegaskan kerja sama tidak hanya berfokus pada perdagangan. Pemerintah juga mendorong investasi dua arah, pengembangan teknologi industri, dan pertukaran tenaga kerja. "Kita ingin perusahaan-perusahaan Eurasia berinvestasi di Indonesia, begitu juga sebaliknya. Selain itu, kerja sama teknologi juga penting karena beberapa negara di kawasan tersebut memiliki teknologi industri yang maju," ujarnya.
Pertukaran tenaga kerja dinilai dapat mempererat hubungan antarmasyarakat sehingga kerja sama tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat hubungan bilateral secara keseluruhan.
Pertemuan Bilateral dengan Negara Eurasia
Dalam rangkaian Innoprom 2026, Kementerian Perindustrian menandatangani sejumlah nota kesepahaman (MoU) dengan negara mitra. Salah satunya adalah kerja sama dengan Kyrgyzstan di bidang industri halal. Agus menilai sektor halal merupakan pasar global yang terus berkembang sehingga Indonesia harus mengambil peluang tersebut secara maksimal. "Pengembangan industri halal di Indonesia tidak boleh setengah-setengah. Potensi pasar produk halal dunia terus meningkat setiap tahun sehingga kita tidak boleh tertinggal dari negara lain," katanya.
Kerja sama dengan Kyrgyzstan diharapkan dapat memperluas akses produk halal Indonesia ke kawasan Eurasia sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri halal global. Sementara dengan Armenia, pemerintah masih memfinalisasi rancangan MoU di bidang industri. Agus mengatakan kedua negara telah sepakat untuk segera menyelesaikan pembahasan teknis agar penandatanganan dapat dilakukan dalam waktu dekat.
Meski demikian, Agus menekankan bahwa keberhasilan kerja sama internasional tidak diukur dari banyaknya MoU, melainkan dari implementasinya. "MoU hanya merupakan legal framework. Yang paling penting adalah tindak lanjutnya. Kami sepakat mencari program dan proyek yang implementable, executable, serta low hanging fruit, sehingga hasilnya bisa dirasakan dalam satu hingga dua tahun ke depan," ujarnya.
Pertemuan dengan Kazakhstan juga diharapkan bisa memperluas akses pasar industri Indonesia ke negara tersebut, baik di sektor agroindustri, migas, hingga elektronik.
Artikel Terkait
Dubes Rusia Targetkan Kontrak Besar dengan Indonesia dalam Waktu Dekat