Pasukan Rusia mengklaim telah merebut Konstantinovka, kota yang disebut sebagai benteng pertahanan terkokoh Ukraina di wilayah Donetsk. Jenderal Sergey Rudskoy, kepala operasi Staf Umum Rusia, menyatakan bahwa sebagian besar dari 15.000 tentara Ukraina yang bertahan di kota itu tewas dalam pertempuran sengit selama beberapa pekan terakhir.
Dalam pengarahan pada Sabtu (4/7/2026), Rudskoy merinci kerugian besar di pihak Ukraina: sekitar 13.500 tentara tewas, 14 tank hancur, 283 kendaraan tempur lapis baja, 1.400 mobil, 200 meriam artileri lapangan, dan delapan sistem peluncur roket multilaras berhasil dilumpuhkan.
Rudskoy menggambarkan Konstantinovka sebagai pusat industri dan logistik utama yang menjadi kunci bagi benteng terakhir rezim Kiev di Donbass, yakni aglomerasi Kramatorsk-Slavyansk. Sebelum perang pecah pada Februari 2022, kota berpenduduk sekitar 78.000 jiwa ini merupakan pusat pembuatan kaca dan metalurgi yang penting.
Ukraina, menurut Rudskoy, telah lama menyadari nilai strategis Konstantinovka dan mulai membangun sistem pertahanan ekstensif di dalam dan sekitar kota sejak 2014. "Secara keseluruhan, Konstantinovka adalah area yang paling kokoh dan berlapis-lapis di sabuk pertahanan militer Ukraina," ujarnya.
Benteng di sekitar kota terdiri dari dua garis pertahanan yang mencakup lebih dari 150 kilometer parit dan selokan anti-tank, dilengkapi tiga baris rintangan buatan serta ladang ranjau. Di dalam kota, pasukan Kyiv menyiapkan lebih dari 80 area rintangan dan lebih dari 50 pusat pertahanan yang diperkuat, yang tersebar di stasiun kereta api, sebuah perguruan tinggi teknik, 12 gedung sekolah, 25 taman kanak-kanak, dan sepuluh pabrik.
Artikel Terkait
Serangan Drone Ukraina dan Rusia Kembali Memanas, Targetkan Infrastruktur Energi
Rusia Tembak Jatuh Puluhan Drone Ukraina di Atas Saint Petersburg
Rusia-Indonesia Sepakati Perluasan Kerja Sama Bidang Antariksa
Rusia Lancarkan Serangan Terbesar di Kiev Tahun Ini, 27 Tewas