Laba Raksasa Minyak AS Diprediksi Tembus Level Tertinggi Sejak 2022, Berpotensi Bentrok dengan Trump

- Senin, 06 Juli 2026 | 04:30 WIB
Laba Raksasa Minyak AS Diprediksi Tembus Level Tertinggi Sejak 2022, Berpotensi Bentrok dengan Trump

Perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat diperkirakan mencatat laba tertinggi sejak 2022, namun kondisi ini berpotensi memicu benturan dengan Presiden Donald Trump yang mendesak industri untuk menurunkan harga bensin menjelang pemilu paruh waktu November.

Exxon Mobil dan Chevron diproyeksikan melaporkan laba kuartal II lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kuartal pertama, menurut perkiraan analis yang dihimpun LSEG. Exxon diperkirakan membukukan laba bersih yang disesuaikan sekitar USD15,9 miliar, sementara Chevron sekitar USD9,9 miliar. Sebagian kenaikan berasal dari pembalikan kerugian akuntansi kuartal pertama terkait kontrak derivatif, namun fundamental pasar yang semakin kuat menjadi pendorong utama.

Harga minyak melonjak setelah perang Timur Tengah dimulai akhir Februari, memperketat pasokan bahan bakar global. Berbulan-bulan masyarakat AS mengeluhkan mahalnya harga bahan bakar. Kenaikan harga bensin memperkuat kritik Partai Demokrat yang berharap merebut kembali kendali Kongres, serta menekan tingkat persetujuan publik terhadap Trump karena banyak warga menilai perang dengan Iran tidak sepadan dengan biayanya.

Pemerintahan Trump telah meminta Departemen Kehakiman menyelidiki dugaan praktik penggelembungan harga bensin. Menteri Keuangan Scott Bessent memperingatkan produsen dan perusahaan penyulingan bahwa Gedung Putih dapat mempertimbangkan langkah administratif jika harga di SPBU tidak turun signifikan. Trump menginginkan harga rata-rata bensin nasional turun ke sekitar USD2,50 per galon, jauh di bawah rata-rata saat ini sekitar USD3,85 per galon.

Para pelobi industri minyak meningkatkan komunikasi dengan pejabat pemerintah dan anggota parlemen untuk meredam kritik. Namun, para eksekutif minyak mengatakan pengaruh mereka terhadap harga eceran terbatas. Harga minyak mentah hanya menyumbang hampir setengah dari harga di SPBU, sisanya ditentukan oleh biaya penyulingan, distribusi, pemasaran, dan pajak.

Meski harga minyak mentah acuan telah kembali ke level sebelum perang, harga bensin AS masih sekitar 22 persen lebih tinggi. Analis dan pelaku industri menilai kondisi ini lebih disebabkan ketatnya pasar fisik bahan bakar dan terbatasnya persediaan bensin.

Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, mengatakan perbedaan tersebut mencerminkan tekanan struktural antara sisi pasokan dan permintaan.

“Harga bensin tidak selalu bergerak seiring dengan harga minyak mentah, terutama saat terjadi gangguan besar terhadap pasokan global, kapasitas penyulingan, dan persediaan,” kata juru bicara American Petroleum Institute, Bethany Williams.

American Fuel & Petrochemical Manufacturers menyatakan bahwa kebijakan pemerintah juga berperan dalam pembentukan harga, termasuk melalui biaya regulasi. “Kilang tidak menetapkan harga bensin jadi, dan minyak mentah hanyalah salah satu dari banyak komponen biaya,” kata kelompok tersebut.

Gedung Putih menegaskan prioritas utama Trump adalah menurunkan harga bensin. Pemerintah menyoroti penurunan harga minyak sejak tercapainya kesepakatan dengan Iran serta meningkatnya koordinasi dengan industri minyak terkait perizinan dan regulasi.

Exxon menolak berkomentar. Chevron merujuk pada wawancara CFO-nya, Eimear Bonner, pada 25 Juni yang menyatakan bahwa harga bensin membutuhkan waktu untuk kembali normal.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags