Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar mencari pembeli untuk bahan mentah, melainkan mengajak negara mitra membangun industri bersama melalui investasi, hilirisasi, dan transfer teknologi. Transformasi industri menjadi kunci bagi Indonesia untuk mencapai target sebagai salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia pada 2045.
“Indonesia bukan negara yang mencari pembeli bahan mentah. Indonesia adalah negara industri yang mencari mitra untuk membangun bersama,” ujar Agus saat berbicara dalam Forum Bisnis Indonesia-Rusia di Innoprom 2026 di Ekaterinburg, Rusia, Selasa (7/7).
Sektor manufaktur menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Pada kuartal I 2026, industri manufaktur tumbuh 5,04 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,55 persen. Sektor ini menyumbang hampir seperlima produk domestik bruto (PDB), lebih dari 83 persen nilai ekspor nasional, serta menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja. Capaian tersebut menunjukkan Indonesia telah bertransformasi menjadi negara industri yang siap menjadi bagian dari rantai pasok manufaktur global, bukan lagi sekadar pemasok bahan baku.
Hubungan ekonomi Indonesia dan Rusia dinilai memiliki fondasi yang kuat untuk ditingkatkan. Nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai USD 4,8 miliar pada 2025, naik 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspor Indonesia ke Rusia tumbuh 7,5 persen menjadi USD 1,8 miliar. Struktur perdagangan kedua negara saling melengkapi, mulai dari karet, kopi, alas kaki, elektronik, hingga bahan kimia dari Indonesia, serta pupuk, baja, serealia, dan produk dirgantara dari Rusia.
Agus mengatakan hubungan dagang tersebut perlu ditingkatkan menjadi kemitraan industri yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi. Salah satu peluang terbesar berada pada sektor hilirisasi mineral. Indonesia menawarkan kerja sama investasi mulai dari pembangunan smelter, fasilitas pemurnian, hingga industri bahan baku baterai. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, disertai sumber daya bauksit, timah, dan tembaga yang menjadi modal penting dalam pengembangan industri kendaraan listrik dan baterai.
“Bagi investor, Indonesia menawarkan kepastian pasokan bahan baku. Sementara bagi Indonesia, kerja sama ini menghadirkan investasi, teknologi, dan kemitraan jangka panjang,” katanya.
Selain sektor mineral, pemerintah juga membuka peluang kolaborasi di bidang manufaktur, energi, petrokimia, otomotif, elektronik, tekstil, hingga perkapalan melalui skema usaha patungan dan investasi di kawasan industri yang telah disiapkan pemerintah. Agus menegaskan kerja sama tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan perdagangan, tetapi juga membangun basis produksi bersama yang mampu memperkuat daya saing kedua negara.
Ia juga mendorong perusahaan Indonesia untuk memanfaatkan Rusia sebagai pintu masuk ke pasar Eurasia, khususnya melalui investasi di sektor makanan halal, kosmetik, dan farmasi. Sebaliknya, Indonesia menawarkan akses bagi perusahaan Rusia ke pasar ASEAN yang berpenduduk lebih dari 700 juta jiwa. Menurut Agus, hubungan investasi akan menciptakan keterikatan ekonomi yang lebih kuat dibandingkan sekadar transaksi perdagangan.
“Hasil yang ingin kita capai bukan hanya dokumen kerja sama, tetapi investasi yang terealisasi, usaha patungan yang terbentuk, serta industri yang benar-benar dibangun bersama,” tutur Agus.
Artikel Terkait
Indonesia Manfaatkan Status Partner Country di Innoprom 2026 untuk Perkuat Kerja Sama dengan Eurasia
Rusia Klaim Kuasai Konstantinovka, Benteng Pertahanan Terkuat Ukraina di Donetsk
Serangan Drone Ukraina dan Rusia Kembali Memanas, Targetkan Infrastruktur Energi
Rusia Tembak Jatuh Puluhan Drone Ukraina di Atas Saint Petersburg