Wall Street Tertekan, Saham Chip AI Anjlok dan Inflasi Kembali Mengancam

- Senin, 29 Juni 2026 | 06:18 WIB
Wall Street Tertekan, Saham Chip AI Anjlok dan Inflasi Kembali Mengancam

Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat (26/6) setelah saham-saham produsen chip kecerdasan buatan (AI) mengalami penurunan tajam. Di sisi lain, saham Moderna dan sejumlah emiten sektor kesehatan justru mencatat kenaikan signifikan.

Indeks S&P 500 turun 0,05 persen ke 7.353,95, Nasdaq melemah 0,24 persen ke 25.297,62, dan Dow Jones Industrial Average turun 0,09 persen ke 51.876,11. Indeks semikonduktor PHLX (SOX) anjlok 5,3 persen, menandakan volatilitas tinggi pada saham-saham chip AI yang selama ini menjadi motor penguatan bursa.

Meski sebagian investor masih optimistis AI akan mendorong peningkatan laba perusahaan, kekhawatiran mulai muncul terkait besarnya belanja modal untuk membangun pusat data AI yang dinilai membutuhkan waktu terlalu lama untuk menghasilkan keuntungan.

"Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa koreksi besar sedang terjadi di sektor teknologi. Namun yang jelas, pertanyaan mengenai profitabilitas dan besarnya belanja modal (capex) belum akan hilang," kata Chief Investment Strategist AlphaCore Wealth Advisory, David Stubbs. Ia juga memperingatkan bahwa Wall Street dapat menghadapi tekanan jika perusahaan-perusahaan AS gagal memenuhi ekspektasi laba yang tinggi dari investor.

Saham Apple menguat 3,1 persen, memulihkan sebagian pelemahan pada Kamis setelah perusahaan menaikkan harga iPad dan MacBook dengan alasan melonjaknya biaya chip memori dan penyimpanan. Sementara itu, saham Moderna melonjak hampir 13 persen ke level tertinggi sejak 2024 setelah perusahaan farmasi tersebut menggelar acara bagi investor dan memamerkan portofolio pengembangan produknya.

Sebanyak delapan dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500 ditutup melemah. Sektor industri mencatat penurunan terbesar sebesar 3,41 persen, disusul sektor material yang turun 2,45 persen.

Data yang dirilis Kamis (25/6) menunjukkan inflasi AS kembali naik di atas 4 persen pada Mei akibat perang Iran yang mendorong kenaikan harga energi. Hal ini membuat peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve tetap terbuka. Chief Market Strategist B. Riley Wealth, Art Hogan mengatakan, meski harga minyak telah turun tajam setelah ketegangan di Timur Tengah mereda, kenaikan harga produk Apple yang baru diumumkan menunjukkan inflasi masih menjadi perhatian.

"Kami melihat dinamika serupa saat pandemi ketika gangguan rantai pasok membatasi akses terhadap semikonduktor. Kini kami menyaksikan guncangan pasokan yang serupa, tetapi kali ini dipicu oleh chip memori, yang kembali menciptakan tekanan inflasi," ujar Hogan.

Secara mingguan, S&P 500 turun 2,05 persen dan Nasdaq merosot 4,7 persen. Indeks semikonduktor kehilangan 7,9 persen sepanjang pekan, menjadi penurunan mingguan terburuk sejak awal April. Meski demikian, di indeks S&P 500, jumlah saham yang menguat lebih banyak dibandingkan yang melemah dengan rasio 1,8 banding 1. S&P 500 mencatat 35 saham yang menyentuh level tertinggi baru dalam 52 minggu dan lima saham yang mencetak level terendah baru. Nasdaq membukukan 263 saham pada level tertinggi baru dan 169 saham pada level terendah baru. Volume perdagangan di bursa AS mencapai 30,1 miliar saham, lebih tinggi dari rata-rata 23,1 miliar saham selama 20 sesi perdagangan terakhir.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags