Valuasi Saham Indonesia Mendekati Level Krisis 2008, Peluang Investasi Terbuka

- Senin, 29 Juni 2026 | 06:50 WIB
Valuasi Saham Indonesia Mendekati Level Krisis 2008, Peluang Investasi Terbuka

Tekanan panjang yang membayangi pasar saham Indonesia justru dinilai mulai membuka peluang investasi. UOB Kay Hian menilai valuasi saham Indonesia kini berada di level krisis, bahkan mendekati periode krisis keuangan global 2008-2009, sehingga menciptakan peluang risk-reward yang menarik bagi investor.

Dalam riset yang terbit 26 Juni 2026, analis UOB Kay Hian Willinoy Sitorus dan tim menyebutkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi salah satu indeks saham dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang tahun ini. IHSG tercatat turun 32 persen secara year to date dan diperdagangkan pada rasio price to earnings (PE) hanya 10 kali untuk estimasi 2026 serta 8,6 kali untuk 2027.

Level valuasi tersebut merupakan yang terendah sejak pandemi Covid-19 dan tidak jauh dari level saat krisis keuangan global 2008-2009. Dibandingkan pasar saham regional, valuasi IHSG juga berada pada diskon yang cukup besar. “Risiko-risiko yang membayangi pasar dinilai sudah banyak tercermin (priced in) dalam harga saham,” tulis Willinoy dan tim.

Meski IHSG telah mengalami pemulihan dari titik terendah pada Juni, UOB Kay Hian menilai kenaikan tersebut masih lebih banyak didorong sentimen dibandingkan perbaikan fundamental. Optimisme terhadap reformasi kebijakan, meredanya kekhawatiran regulasi, ekspektasi positif terkait MSCI, serta penurunan risiko geopolitik menjadi katalis penguatan pasar. Namun, penguatan berkelanjutan masih membutuhkan bukti konsistensi pelaksanaan kebijakan dan stabilitas ekonomi makro.

Risiko yang masih membayangi

Menurut UOB Kay Hian, sejumlah risiko masih menjadi perhatian investor, terutama tekanan fiskal, pelemahan rupiah, risiko inflasi, serta kekhawatiran terhadap rasio pembayaran utang pemerintah setelah adanya prospek negatif dari lembaga pemeringkat Fitch Ratings dan Moody's Ratings. Selain itu, perhatian terhadap status Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets Index juga menambah ketidakpastian.

Bobot Indonesia dalam indeks pasar berkembang tersebut telah turun menjadi sekitar 0,5 persen dari puncaknya hampir 3 persen dalam 10 tahun terakhir. Jumlah saham Indonesia yang masuk dalam indeks MSCI juga menyusut menjadi 11 emiten dari sebelumnya lebih dari 20 emiten. Meski demikian, UOB Kay Hian memperkirakan Indonesia masih tetap berada dalam kategori emerging market MSCI. Otoritas pasar modal Indonesia diberikan waktu hingga November 2026 untuk menunjukkan efektivitas reformasi terkait transparansi dan tata kelola.

Sektor perbankan jadi barometer

Sektor perbankan menjadi salah satu sektor yang paling mencerminkan tekanan pasar saat ini. UOB menilai saham bank besar telah mencerminkan skenario tekanan ekonomi yang berat. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) saat ini diperdagangkan mendekati valuasi price to book value (PBV) terendah saat krisis keuangan global 2008. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) berada di bawah level valuasi pada 2018.

Di sisi lain, saham-saham bank tersebut menawarkan imbal hasil dividen yang menarik, berkisar 6 persen hingga 10 persen. Namun, pemulihan sektor perbankan masih bergantung pada kembalinya likuiditas ke perekonomian. UOB Kay Hian menilai kebijakan likuiditas Bank Indonesia (BI) melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan kebijakan penyaluran kredit yang lebih selektif masih membatasi ruang pertumbuhan. "Re-rating sektor perbankan secara signifikan membutuhkan kembalinya likuiditas ke ekonomi riil, didukung oleh tekanan fiskal yang lebih rendah dan kondisi pendanaan yang lebih akomodatif," tulis UOB.

Untuk jangka menengah, UOB Kay Hian menetapkan target IHSG akhir 2026 di level 7.500. Target tersebut menggunakan asumsi valuasi 12 kali PE 2026 atau rata-rata tiga tahun terakhir, dengan proyeksi pertumbuhan laba sebesar 8,3 persen. Strategi yang disarankan adalah melakukan akumulasi secara selektif melalui portofolio yang seimbang antara sektor perbankan, komoditas, dan saham defensif.

Beberapa saham pilihan UOB Kay Hian antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Astra International Tbk (ASII), BBCA, BMRI, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

Meski peluang pemulihan terbuka, UOB Kay Hian tetap mengingatkan sejumlah risiko, seperti pelemahan rupiah yang dapat mendorong pengetatan kebijakan BI, penurunan peringkat utang pemerintah, pelebaran defisit fiskal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan subsidi energi, kenaikan harga minyak, serta perkembangan negatif terkait evaluasi MSCI.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags