Harga Minyak Tertekan, Brent Berpotensi Uji Level USD65

- Senin, 29 Juni 2026 | 07:15 WIB
Harga Minyak Tertekan, Brent Berpotensi Uji Level USD65

Harga minyak mentah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada pekan ini setelah mencatat penurunan tajam sepanjang pekan lalu. Meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah menjadi faktor utama, meskipun risiko geopolitik tetap membayangi.

Minyak mentah Brent ditutup melemah 4,34 persen menjadi USD71,99 per barel pada Jumat pekan lalu, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS turun 3,74 persen menjadi USD69,23 per barel. Secara mingguan, harga Brent merosot 10,86 persen dan WTI turun 9,62 persen.

Pelemahan ini terjadi setelah kapal-kapal tanker kembali melanjutkan pengiriman melalui Selat Hormuz, meredakan kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan energi global. Sebelumnya, pasar sempat cemas setelah sebuah kapal kargo diserang di dekat Oman, namun kekhawatiran itu mulai berkurang setelah tercapainya gencatan senjata sementara antara AS dan Iran.

"Ada keyakinan yang semakin kuat bahwa minyak akan tetap mengalir melalui Selat Hormuz," kata Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn.

Meski demikian, pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Tanda-tanda bahwa gencatan senjata AS-Iran menghadapi tekanan muncul kembali setelah kedua negara dilaporkan saling serang pada akhir pekan. Hal ini membuka peluang meningkatnya volatilitas harga, terutama jika konflik meluas dan mengancam jalur perdagangan energi utama.

Pemulihan ketegangan geopolitik dapat mendorong harga minyak, terutama saat persediaan global mulai menurun. Di sisi lain, ada indikasi bahwa Presiden AS Donald Trump tidak menginginkan konflik menjadi perang terbuka, karena kekhawatiran dampak ekonomi dan politik menjelang pemilu sela.

Teknikal Bearish

Dari sisi teknikal, tren harga minyak masih cenderung bearish. Harga Brent telah turun dari level tertinggi tahun berjalan di USD119,75 per barel menuju sekitar USD73,60 per barel, dan telah menembus level retracement Fibonacci 61,8 persen. Indikator teknikal menunjukkan sinyal pelemahan: rata-rata bergerak 50 hari (MA-50) dan 100 hari (MA-100) membentuk pola bearish crossover, sementara RSI dan MACD masih bergerak turun.

Dengan kondisi tersebut, tekanan penurunan berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Brent diperkirakan dapat menguji level support berikutnya di sekitar USD65 per barel. Namun, prospek bearish ini dapat berubah jika harga mampu kembali menembus area resistance USD80 per barel.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags