Bank Indonesia (BI) mengerahkan seluruh jaringan 46 kantor perwakilan (KPw) di dalam negeri untuk memperluas dampak program pembinaan UMKM dan pemberdayaan ekonomi pesantren. Langkah ini menjadi bagian dari peluncuran Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu yang bertujuan menciptakan lapangan kerja sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan di tengah ketidakpastian global.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyebut jaringan KPw yang tersebar di berbagai daerah akan menjadi ujung tombak pelaksanaan program. Dengan demikian, dampak yang dihasilkan bisa dirasakan lebih luas. Kekuatan jaringan ini memungkinkan program pemberdayaan ekonomi dijalankan secara serentak di berbagai daerah. Program yang selama ini telah berjalan, mulai dari pembinaan UMKM, pengembangan ekonomi syariah, hingga pemberdayaan pesantren, dapat diperluas dengan cakupan yang lebih besar.
Perry mencontohkan sejumlah program yang telah berjalan, seperti penyediaan air minum dalam kemasan di pesantren, green farming, hingga pengembangan UMKM sektor wastra dan kopi. Program-program tersebut nantinya akan direplikasi melalui jaringan KPwBI di seluruh Indonesia.
BI saat ini telah membina lebih dari 3.000 UMKM dan memberdayakan lebih dari 1.500 pesantren di berbagai wilayah. Menurut Perry, fondasi tersebut menjadi modal untuk memperluas dampak program melalui sinergi dengan kementerian, pemerintah daerah, asosiasi usaha, hingga komunitas pesantren.
“Bagi Bank Indonesia kami itu punya 46 kantor-kantor BI, lebih dari 3.000 UMKM kami sudah bina. Wastra yang saya pakai ini, kopi, kemudian juga untuk beras, cabai, sampai kemudian keripik singkong juga ada UMKM. Di ekonomi pesantren lebih dari 1.500 pesantren sudah kita berdayakan ekonominya di seluruh Indonesia,” kata Perry dalam acara Kick-Off Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu, Senin (22/6).
Meski berbagai program pembinaan telah berjalan selama beberapa tahun terakhir, tantangan berikutnya adalah memperbesar dampak ekonomi yang dihasilkan. Program transformasi yang diluncurkan tahun ini dirancang dengan skala nasional dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Sinergi antara BI dengan mitra strategis hingga komunitas pesantren menjadi kunci untuk mempercepat penciptaan wirausaha baru dan memperluas lapangan kerja.
“Yang harus kita lakukan adalah bagaimana impact-nya, dampaknya itu semakin luas. Itulah Kick-Off yang hari ini (22/6) kita lakukan,” ujarnya.
Melalui dukungan 46 kantor perwakilan, BI menargetkan berbagai program unggulan seperti Cangkir Barista, Citra Nusantara, Air Berkah Indonesia, dan Tani Berkah dapat menjangkau lebih banyak peserta di seluruh daerah. Model pembinaan yang diterapkan juga dibuat lebih terstruktur, mulai dari pendidikan kewirausahaan, magang atau praktik usaha, hingga pemberian akses permodalan.
Perry berharap jaringan kantor BI di daerah dapat menjadi penggerak utama ekonomi kerakyatan dan membantu melahirkan lebih banyak pelaku usaha yang mampu menciptakan lapangan kerja baru. Menurut dia, penguatan UMKM dan ekonomi pesantren menjadi semakin penting di tengah gejolak global yang masih berlangsung. Dengan memperkuat basis ekonomi domestik melalui jaringan yang tersebar hingga ke daerah, Indonesia dinilai memiliki pondasi yang lebih kuat untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Roda Ekonomi Pesantren
Di sektor ekonomi pesantren, BI meluncurkan program Air Berkah Indonesia. Program ini bertujuan mendorong kemandirian ekonomi pondok pesantren melalui usaha air minum dalam kemasan. Targetnya, 200 pesantren mampu mengembangkan bisnis tersebut dalam beberapa tahun ke depan. Selain memenuhi kebutuhan internal, produk air minum juga diharapkan dapat dipasarkan kepada masyarakat sekitar.
“Melalui program ini pesantren akan didorong mengembangkan unit usaha air minum dalam kemasan berbasis sumber daya lokal. Kami menargetkan 200 pesantren,” kata Perry.
BI juga memperluas program Tani Berkah yang berfokus pada pengembangan pertanian modern berbasis hidroponik dan green farming di lingkungan pesantren. Melalui program ini, BI memberikan pelatihan kewirausahaan, praktik usaha, hingga pendampingan bisnis agar pesantren mampu mengelola usaha pertanian secara mandiri. Menurut Perry, model bisnis tersebut telah terbukti berhasil diterapkan di sejumlah pesantren dan memiliki potensi untuk diperluas ke berbagai daerah.
“Tani Berkah ini ya tak dorong-dorong ini kok tahun ini alhamdulillah 10 pondok pesantren. Tahun depan besok ya 50 lah, tahun berikutnya 100 lah,” ujarnya.
UMKM Kopi Binaan BI Sudah Ekspor ke 30 Negara
Mozass Healthy Labs menjadi salah satu UMKM binaan BI yang sudah malang melintang di kancah global. Founder Mozass Healthy Labs, Carlo Mayer, mengatakan produknya telah menembus lebih dari 30 negara dan masuk ke pasar specialty coffee dunia.
Carlo menjelaskan, Mozass Healthy Labs berfokus pada produk kopi organik dengan kualitas specialty yang rata-rata memiliki nilai di atas 80 poin. Kualitas tersebut membuat produknya dipercaya berbagai pasar internasional, termasuk lingkungan keluarga kerajaan Thailand hingga konsumen di Rusia.
“Kopi-kopinya kita kopi organik, biasa kita melakukan ekspor sudah lebih dari 30 negara,” kata Carlo.
Kopi Indonesia masih menjadi salah satu jenis kopi yang paling diminati di pasar global. Permintaan terbesar datang untuk jenis kopi arabika specialty dan robusta specialty. Selain itu, tren permintaan juga mulai berkembang ke jenis excelsa dan liberika, tergantung karakter pasar masing-masing negara.
Carlo mengaku Bank Indonesia berperan penting dalam mendukung pengembangan usahanya, terutama melalui fasilitasi promosi dan ekspor ke pasar internasional.
“Biasa kita dapat bantuan dari BI, itu seperti untuk pengiriman ke luarnya juga, untuk ekspor. Dan juga biasa untuk pemasaran seperti ini juga kita dapat bantuan dari Bank Indonesia,” ujarnya.
Artikel Terkait
Indofood Bagikan Dividen Rp290 per Saham, Naik 3,5 Persen dari Tahun Sebelumnya
Kementerian ESDM Sempat Tahan Ekspor Batu Bara demi Amankan Pasokan Listrik PLN
Rupiah Ditutup Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Pengetatan Anggaran MBG
Platform Desktop Trading Makin Diminati Investor, Ajaib Terminal Hadir sebagai Alternatif Analisis Saham