Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat (25/6/2026), naik 21 poin atau sekitar 0,12 persen ke level Rp17.922 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah serta tekanan dari data inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi.
Salah satu sentimen yang mendorong pergerakan rupiah berasal dari insiden di Laut Oman. Sebuah kapal kargo dilaporkan terkena proyektil tak dikenal, yang mendorong badan pelayaran PBB untuk menangguhkan skema evakuasi sukarela. Dua pejabat AS menyebutkan kepada Reuters bahwa Iran menembaki kapal tersebut saat mencoba melewati selat. Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengutip pernyataan otoritas Iran bahwa keamanan kapal yang melintas di luar rute Hormuz yang telah ditentukan tidak terjamin.
Data menunjukkan bahwa pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz meningkat minggu ini ke level tertinggi sejak konflik AS-Israel dengan Iran dimulai pada Februari lalu, setelah kesepakatan gencatan senjata membuka kembali jalur air tersebut. Namun, kekhawatiran tentang berapa lama selat itu akan tetap terbuka justru meningkatkan volume perdagangan. Meski demikian, lalu lintas secara keseluruhan masih jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata harian 125 kapal sebelum konflik 28 Februari. Faktor lain yang turut memicu kekhawatiran pasokan adalah gempa bumi yang melanda Venezuela pada Kamis lalu.
Dari sisi domestik, pasar merespons positif langkah pemerintah yang mempertimbangkan efisiensi dan pengurangan anggaran lebih lanjut untuk program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) demi menjaga stabilitas fiskal. Anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) pada APBN 2026 telah mengalami penyesuaian. Pagu anggaran MBG dipangkas dari rencana awal sebesar Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun. Berdasarkan penyesuaian terbaru, alokasi tersebut kembali mengalami penajaman menjadi sekitar Rp228,38 triliun. Pemerintah bahkan mengkaji opsi pemotongan tambahan hingga Rp50 triliun untuk memperkuat kondisi keuangan negara, merespons risiko ekonomi global, menjaga defisit fiskal, serta memperbaiki tata kelola program.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memperkuat intervensi pasar secara agresif melalui tiga lini utama: pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN). Langkah ini ditempuh untuk meredam volatilitas dan mencegah depresiasi rupiah yang belakangan mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Jika pelemahan masih berlanjut, strategi yang disiapkan BI adalah menaikkan suku bunga acuan, meskipun bank sentral telah menaikkan 100 basis poin hanya dalam waktu dua bulan.
Ibrahim menilai bahwa yang dibutuhkan pasar saat ini adalah jangkar ekspektasi yang jelas bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama, serta didukung koordinasi erat antara kebijakan moneter dan fiskal. Dari sisi komunikasi, BI perlu terus menegaskan konsistensi arah kebijakan, kecukupan cadangan devisa dan instrumen stabilisasi, serta komitmen untuk menjaga agar pelemahan rupiah tidak berujung pada lonjakan inflasi maupun gangguan stabilitas sistem keuangan.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.920 hingga Rp17.960 per dolar AS. Untuk sepekan ke depan, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp17.880 hingga Rp18.100 per dolar AS.
Artikel Terkait
Indofood Bagikan Dividen Rp290 per Saham, Naik 3,5 Persen dari Tahun Sebelumnya
BI Kerahkan 46 Kantor Perwakilan untuk Perluas Program Pembinaan UMKM dan Pemberdayaan Pesantren
Kementerian ESDM Sempat Tahan Ekspor Batu Bara demi Amankan Pasokan Listrik PLN
Platform Desktop Trading Makin Diminati Investor, Ajaib Terminal Hadir sebagai Alternatif Analisis Saham