Louis van Gaal Mundur dari Ajax karena Masukannya Tak Lagi Dihargai

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:00 WIB
Louis van Gaal Mundur dari Ajax karena Masukannya Tak Lagi Dihargai

Mantan pelatih Tim Nasional Belanda, Louis van Gaal, mengungkapkan alasan di balik pengunduran dirinya dari posisi penasihat eksternal Dewan Pengawas Ajax pada awal Juli 2026. Pria berusia 75 tahun itu merasa masukan teknisnya tidak lagi dihargai oleh manajemen klub.

Van Gaal menilai struktur organisasi Ajax terlalu rumit dan diisi oleh jajaran petinggi yang minim pengalaman sepak bola tingkat atas. Pengunduran diri ini berawal dari kekecewaannya terhadap mekanisme pengambilan keputusan di klub yang dinilainya melambat dan tidak efisien.

"Saya adalah seseorang dengan visi yang jelas, selalu begitu. Sebagai pelatih, saya berprinsip pada aturan, nilai, dan norma, serta hasil. Jika Anda tidak memberikan hasil, maka Anda harus pergi. Itu sebenarnya aturan Van Gaal," kata Van Gaal.

Ia menambahkan bahwa prinsip tegas tersebut seharusnya tidak hanya diterapkan kepada para pemain di atas lapangan, tetapi juga berlaku pada staf pendukung serta manajemen tingkat atas klub. "Itu berlaku untuk organisasi di dalam lapangan, yaitu tim, tetapi juga dalam pendampingan di sekitar tim itu dan bahkan untuk tingkat organisasi klub secara keseluruhan," ujarnya.

Namun, kondisi internal di Amsterdam dinilai sangat bertolak belakang dengan prinsip tersebut. "Dalam beberapa tahun terakhir, selalu ada 16 orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan tentang masalah kebijakan teknis. Direksi, dewan pengawas, dan dewan manajemen. Itu tidak mungkin!" kata Van Gaal.

Proses birokrasi yang panjang ini dinilai menghambat langkah strategis klub dalam menghadapi persaingan sepak bola modern. "Bagaimanapun juga, terlalu banyak waktu yang terbuang untuk membuat keputusan penting, misalnya tentang pengangkatan pelatih atau perekrutan pemain. Dan kemudian semua orang ikut berbicara, yang menurut saya tidak mengerti sepak bola. Di Ajax, dari 16 orang itu hanya ada dua orang yang berpengalaman di sepak bola level atas. Jadi dari situ saja sudah bermasalah," ujar Van Gaal.

Selain masalah struktur internal, Van Gaal merasa posisinya di dalam klub hanya dijadikan sebagai pelindung manajemen dari kritik publik tanpa memberikan kewenangan nyata. "Saya bahkan tidak termasuk dalam 16 orang itu. Saya berada di luar dan tidak memiliki tanggung jawab atau pengaruh apa pun, tetapi mereka ingin saya ikut berpikir," katanya.

Situasi tersebut membuat Van Gaal berkali-kali mempertimbangkan untuk melepas jabatannya lebih awal sebelum keputusan final diambil. "Tetapi jika saya melakukan itu selama musim lalu, maka akan ada terlalu banyak perhatian yang tertuju ke sana. Sementara semua perhatian harus difokuskan untuk mencapai posisi kedua dan setidaknya kualifikasi Liga Champions," ujarnya.

Keputusan untuk pergi akhirnya tidak terhindarkan setelah peralihan kepemimpinan di jajaran dewan pengawas klub. "Setelah Michael van Praag berhenti sebagai ketua interim dewan pengawas, tidak ada lagi masukan saya yang digunakan di Ajax. Saya menganggap pengalaman sepak bola dalam sebuah organisasi sangat penting. Anda berharap seorang pelatih ingin melakukan sesuatu dengan itu atau seorang direktur teknik menghubungi Anda. Semua itu tidak terjadi. Jadi saya merasa tidak dihargai sebagaimana mestinya oleh Ajax," kata Van Gaal.

Mantan pelatih Bayern Munich itu juga menyamakan kondisinya dengan kepergian Danny Blind dari jajaran komisaris klub sebelumnya. "Danny telah mengindikasikan apa yang terjadi di Ajax. Dia ingin memiliki lebih banyak pengaruh. Bagi saya, Ajax adalah klub saya dan saya ingin membantunya. Terutama dalam situasi beberapa tahun terakhir. Namun sekarang saya hanya merasa digunakan untuk membentuk perisai. Seperti: kalian kan punya Louis van Gaal? Dia pasti lebih tahu, kan? Sangat menyebalkan ketika hal-hal berjalan buruk dengan klub dan Anda tidak bisa mengubah apa pun. Maka saya juga harus jujur pada diri sendiri dan lebih baik berhenti," ujarnya.

Di sisi lain, Van Gaal membandingkan tata kelola Ajax dan Feyenoord dengan PSV Eindhoven yang dinilainya memiliki struktur kepemimpinan jauh lebih efektif. "Jika saya melihat Belanda dari perspektif saya dan melihat apa yang terjadi di Ajax dan Feyenoord, Anda tidak akan bahagia. Dan itu ada hubungannya dengan struktur organisasi ditambah pengambilan keputusan yang dihasilkan darinya. Saya tidak merasa pantas untuk benar-benar menghakimi hal itu, tetapi secara umum saya mengamati bahwa para pelatih sering kali tidak memiliki kekuasaan untuk membentuk tim atau skuad sesuai keinginan mereka. Dan saya menganggap pelatih sebagai orang terpenting dalam sebuah organisasi," kata Van Gaal.

Ia memuji bagaimana manajemen PSV membangun komunikasi yang efisien antara jajaran direksi dan staf kepelatihan. "Klub itu memiliki manajemen yang sangat bagus, dengan Marcel Brands yang saya alami sendiri di AZ. Ditambah pendahulunya Toon Gerbrands tentu saja. Mereka bekerja dengan jalur yang sangat pendek ke direktur teknik Earnest Stewart dan pelatih Peter Bosz, yang mungkin juga tidak bisa memutuskan segalanya tetapi sangat jelas bertanggung jawab atas gaya permainan tertentu dan didukung penuh dalam hal itu. Begitulah cara Anda harus memimpin klub top. Sepak bola jelas menjadi hal utama di PSV," ujar Van Gaal.

Selain membahas Ajax dan PSV, nama Van Gaal kembali dikaitkan dengan posisi pelatih Tim Nasional Belanda usai kegagalan negosiasi Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda (KNVB) dengan kandidat lain. Sebelumnya, KNVB sempat bernegosiasi dengan Arne Slot, namun kesepakatan batal karena Slot menginginkan kontrak dua tahun. KNVB kemudian beralih ke Michael Reiziger dan hampir mencapai kesepakatan sebelum komunikasi terhenti secara tiba-tiba.

Mengenai peluang kembali melatih tim nasional, Van Gaal menegaskan sikapnya terkait ambisi kariernya. "Saya hanya ingin bekerja di tingkat teratas. Saya tidak akan mengincar negara yang saya tahu peluang keberhasilannya kecil. Saya hanya menginginkan negara yang bisa menjadi juara dunia. Itulah mengapa Jerman mungkin menarik bagi saya," kata Van Gaal saat mengonfirmasi pernah dihubungi Federasi Sepak Bola Jerman dua tahun lalu.

Saat ditanya mengenai evaluasi performa Timnas Belanda di Piala Dunia 2026, Van Gaal memilih untuk tidak berkomentar demi menghormati posisi penerusnya. "Saya punya pendapat tentang itu, tetapi karena saya sendiri pernah menjadi pelatih timnas, saya tidak ingin memasuki wilayah penerus saya, Ronald Koeman," ujarnya.

Ia juga meluruskan spekulasi mengenai posisinya yang belum menerima tawaran resmi dari federasi. "Namun saya sering menerima telepon dari orang-orang yang menjajaki kemungkinan. Itu berbeda dari sebuah penawaran dan juga tidak berarti Anda adalah pilihan utama mereka. Saya pikir orang-orang itu juga tahu bahwa saya sudah pensiun," kata Van Gaal.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags