Evaluasi Piala AFF 2026 Menjadi Ujian Arah Proyek Jangka Panjang Timnas Indonesia

- Senin, 10 Agustus 2026 | 19:30 WIB
Evaluasi Piala AFF 2026 Menjadi Ujian Arah Proyek Jangka Panjang Timnas Indonesia

Kegagalan Timnas Indonesia melaju ke semifinal Piala AFF 2026 kembali memunculkan pertanyaan besar: apakah proyek jangka panjang menuju Piala Dunia 2030 masih berada di jalur yang benar? Kekalahan ini bukan sekadar hasil buruk di turnamen regional, melainkan cermin dari persoalan yang lebih mendasar dalam pembinaan sepak bola nasional.

Tim Garuda tersingkir setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Singapura di Stadion Jalan Besar, Jumat, 7 Agustus. Hasil itu membuat Indonesia menempati peringkat ketiga Grup A dengan tujuh poin, di bawah Vietnam yang menjadi juara grup dengan 10 poin dan Singapura yang mengamankan posisi kedua dengan delapan poin. Ini merupakan kegagalan kedua secara beruntun bagi Indonesia untuk melewati fase grup Piala AFF, turnamen yang selama ini menjadi tolok ukur kekuatan sepak bola Asia Tenggara.

Kegagalan ini menempatkan posisi pelatih John Herdman dalam sorotan. Pelatih asal Inggris itu diharapkan membawa transformasi besar, termasuk mempersiapkan tim menuju Piala Dunia 2030. Namun, hasil di Piala AFF justru memunculkan tanda tanya tentang efektivitas program yang dijalankan. PSSI, federasi sepak bola Indonesia, belum mengambil keputusan terburu-buru. Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, mengatakan evaluasi bersama tim kepelatihan akan dilakukan, meski pertemuan yang dijadwalkan Senin malam, 10 Agustus, harus ditunda karena Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, memiliki agenda kementerian lain.

"Sebagaimana yang selalu dilakukan Ketua Umum, baik itu Timnas kita berprestasi maupun tidak, akan ada diskusi dan evaluasi dari semua event yang dilakukan, termasuk dengan Timnas yang AFF kemarin gagal," ujar Yunus Nusi kepada wartawan, Senin. Ia menambahkan, pertemuan dengan Herdman kemungkinan digelar dalam beberapa hari ke depan. PSSI tidak akan langsung menarik kesimpulan hanya berdasarkan hasil Piala AFF, tetapi evaluasi ini penting untuk mengukur kinerja tim, termasuk strategi, pemilihan pemain, dan efektivitas program.

Di sinilah letak persoalan. Jika proyek Herdman memang diarahkan untuk jangka panjang, satu kegagalan di Piala AFF seharusnya tidak otomatis mengubah seluruh rencana. Namun, hasil buruk juga tidak bisa diabaikan begitu saja. PSSI dituntut mampu membedakan antara kegagalan sebuah pertandingan dan kegagalan sebuah sistem. Yunus Nusi meminta publik melihat performa Timnas Indonesia secara objektif. Ia mengingatkan bahwa sebelum Piala AFF, Indonesia sempat meraih hasil positif di FIFA Matchday Juni 2026, seperti mengalahkan Oman dan Mozambik yang peringkat FIFA-nya lebih tinggi, serta sempat menahan Bulgaria meski akhirnya kalah.

"Ketika mereka menang dengan Oman, dengan Mozambik, juga sempat menahan Bulgaria walaupun juga kalah. Itu bagian dari prestasi yang telah mereka sumbangkan ke sepak bola Indonesia," kata Yunus. Namun, prestasi di laga uji coba tidak selalu sejalan dengan performa di turnamen resmi yang memiliki tekanan berbeda. Konsistensi menjadi kunci. Tim yang ingin membangun fondasi menuju Piala Dunia 2030 harus menunjukkan perkembangan tidak hanya dalam pertandingan tertentu, melainkan dalam berbagai situasi dan kompetisi.

Evaluasi terhadap Herdman seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah Indonesia gagal atau berhasil di Piala AFF. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah permainan tim menunjukkan kemajuan, apakah metode kepelatihan mulai membentuk identitas permainan, dan apakah komposisi pemain yang digunakan sesuai dengan kebutuhan proyek jangka panjang. Selain itu, PSSI juga menghadapi tantangan untuk menjaga agar kegagalan tidak berubah menjadi tekanan berlebihan terhadap pemain. Yunus secara terbuka meminta suporter dan netizen tidak mencela pemain Timnas Indonesia, karena mereka adalah aset penting masa depan.

"Hal yang penting bagi kami adalah kami berharap teman-teman suporter, netizen, untuk tidak mencela atau melakukan hal-hal yang negatif kepada pemain kita. Mereka ini aset kita di masa yang akan datang," ujarnya. Pesan ini penting karena kegagalan di Piala AFF kembali memperlihatkan tingginya ekspektasi terhadap Timnas Indonesia. Kritik terhadap hasil semestinya tidak berubah menjadi serangan personal terhadap pemain.

Pada akhirnya, pekerjaan rumah terbesar berada di meja PSSI dan tim kepelatihan. Kegagalan di Piala AFF 2026 tidak otomatis membuktikan bahwa proyek John Herdman menuju Piala Dunia 2030 gagal, tetapi hasil itu memberikan sinyal bahwa ada bagian yang harus dievaluasi. PSSI perlu memastikan proyek jangka panjang tersebut memiliki ukuran keberhasilan yang jelas, bukan sekadar target besar yang sulit diuji. Pertemuan antara Erick Thohir, Yunus Nusi, dan tim kepelatihan Herdman akan menjadi penting. Dari forum tersebut, publik berharap muncul jawaban mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Piala AFF, mengapa Indonesia gagal memanfaatkan peluang lolos, dan perubahan apa yang akan dilakukan setelahnya.

Jika PSSI tetap mempertahankan Herdman, keputusan itu harus disertai alasan yang terukur dan rencana perbaikan yang jelas. Sebaliknya, jika evaluasi menemukan persoalan mendasar, federasi juga harus berani mengambil keputusan. Sebab, perjalanan menuju Piala Dunia 2030 masih panjang. Namun, justru karena masih panjang, setiap kegagalan semestinya menjadi bahan koreksi sejak dini. Piala AFF 2026 boleh saja berakhir tanpa tiket semifinal bagi Indonesia, tetapi yang tidak boleh berakhir adalah proses evaluasinya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags