Rupiah Terus Tertekan, Dolar AS Tembus Rp17.861

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 16:30 WIB
Rupiah Terus Tertekan, Dolar AS Tembus Rp17.861

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026. Rupiah ditutup turun 106 poin atau 0,60 persen ke level Rp17.861 per dolar AS, memperpanjang tren negatif di tengah ketidakpastian global dan domestik.

Analis Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah terutama dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara saling menuntut kompensasi atas serangan militer, yang memupus harapan pasar bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz akan segera tercapai.

"Keduanya juga melontarkan klaim yang bertentangan mengenai status Selat Hormuz; Washington menyatakan bahwa jalur perairan tersebut tetap terbuka, sementara Teheran mengklaim telah menutup jalur itu menggunakan ranjau dan pesawat nirawak (drone)," ujar Ibrahim dalam risetnya.

Sebelumnya, otoritas AS sempat menyatakan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali jalur perairan vital tersebut sudah dekat, menyusul penurunan tajam harga minyak pada pekan lalu. Namun, sikap saling menuntut kompensasi tersebut mengindikasikan bahwa kedua pihak masih jauh dari titik temu.

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data inflasi Amerika Serikat. Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk Juli akan dirilis pada Rabu (12/8), disusul Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis (13/8). CPI diperkirakan turun dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen secara tahunan, sementara inti CPI diproyeksikan turun dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen.

Data tersebut akan menjadi petunjuk baru mengenai arah suku bunga Federal Reserve. Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan sekitar 44 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan September, turun dari 67 persen seminggu sebelumnya.

Dari dalam negeri, pasar bersikap waspada terhadap agenda tinjauan MSCI untuk Agustus 2026 yang dijadwalkan pada 12 Agustus. Perubahan penyeimbangan ulang (rebalancing) akan mulai berlaku setelah 31 Agustus.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah sedikit tertahan oleh langkah Presiden Prabowo yang menunjuk Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo. Langkah ini meredakan kekhawatiran terkait kepemimpinan bank sentral.

Namun, sentimen negatif datang dari rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru yang menurun dari 117,8 pada Juni menjadi 116,8 pada Juli 2026. Level tersebut merupakan yang terendah sejak September 2025 yang sebesar 115. Dibandingkan dengan awal tahun yang mencapai 127, IKK telah turun 10,2 poin. Survei yang dilakukan Bank Indonesia ini mencerminkan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi mereka ke depan.

Di sisi lain, data penjualan eceran yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan peningkatan 0,7 persen secara bulanan pada Juni, mengakhiri tren kontraksi pada dua bulan sebelumnya. Perbaikan ini dipengaruhi oleh siklus musiman yang terjadi setiap Juni, sejalan dengan terjaganya permintaan selama periode hari besar keagamaan nasional dan libur sekolah.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.860 hingga Rp17.970 per dolar AS.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags