Potensi merger antara PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) dan PT Pelindo Marine Service dinilai mampu membuka babak baru pertumbuhan bagi emiten jasa pemanduan dan penundaan kapal tersebut. Konsolidasi ini disebut sejalan dengan agenda restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tengah digencarkan pemerintah melalui Danantara Indonesia.
Analis Bahana Sekuritas menilai penggabungan kedua entitas berpotensi melahirkan platform jasa towage dan pilotage terbesar yang tercatat di bursa efek Indonesia. Menurut mereka, peluang merger semakin terbuka seiring upaya pengurangan jumlah perusahaan pelat merah di berbagai sektor, termasuk jasa maritim.
“IPCM berpotensi menjadi pihak yang diuntungkan dari kemungkinan merger dengan Pelindo Marine Service,” tulis Bahana Sekuritas dalam riset yang dikutip Dow Jones Newswires, Rabu (6/5/2026).
Bahana menjelaskan, kedua perusahaan memiliki wilayah operasional yang saling melengkapi sehingga potensi tumpang tindih bisnis relatif terbatas. IPCM selama ini lebih dominan di kawasan Indonesia barat, sedangkan Pelindo Marine Service memiliki kekuatan di wilayah tengah hingga timur Indonesia. Dengan cakupan wilayah yang berbeda, merger dinilai dapat memperkuat jaringan layanan maritim nasional sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Di tengah prospek tersebut, Bahana Sekuritas memulai peliputan terhadap saham IPCM dengan rekomendasi beli. Broker itu menetapkan target harga saham IPCM di level Rp420 per unit. Sementara itu, pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026), saham IPCM diperdagangkan di level Rp328 per unit, terkoreksi 8,38 persen sejak awal tahun.
Dari sisi kinerja keuangan, IPCM membukukan laba bersih sebesar Rp45,57 miliar pada kuartal I-2026. Realisasi tersebut tumbuh 3,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp44,24 miliar. Sebagian besar pendapatan perusahaan masih ditopang oleh jasa pelayanan kapal yang mencapai Rp334,51 miliar, atau sekitar 96,34 persen dari total pendapatan.
Pendapatan dari jasa pengangkutan dan layanan lainnya tercatat Rp12,71 miliar, meningkat 11,12 persen secara tahunan. Adapun pendapatan jasa pelayanan kapal berasal dari segmen pelabuhan umum sebesar Rp155,73 miliar, Terminal Khusus (Tersus) Rp114,11 miliar, serta Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) Rp64,68 miliar. Pada periode tersebut, segmen pelabuhan umum dan TUKS masing-masing mencatat pertumbuhan 2,50 persen dan 5,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset IPCM meningkat 4,39 persen menjadi Rp1,79 triliun pada kuartal I-2026, dari posisi akhir 2025 sebesar Rp1,71 triliun. Perseroan juga mencatat kenaikan arus kas dari aktivitas operasional sebesar 36,29 persen menjadi Rp102,10 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp74,91 miliar. Manajemen IPCM menilai kinerja arus kas tersebut tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik global.
Artikel Terkait
482 Saham Tertekan, Net Sell Investor Domestik Capai Rp12,27 Triliun dalam Sepekan
IHSG Tertekan Aksi Jual Investor Domestik, Melemah ke 6.969 pada Akhir Pekan
Harga Emas Antam di Pegadaian Turun Tipis Jadi Rp2,953 Juta per Gram, Galeri24 dan UBS Stabil
Saham BREN, DSSA, hingga GOTO Terancam Keluar dari Indeks MSCI Imbas Aturan Free Float dan Konsentrasi Kepemilikan