IHSG Anjlok Hingga 2%, Tertekan Rupiah dan Aksi Jual Saham Konglomerasi

- Kamis, 23 April 2026 | 15:50 WIB
IHSG Anjlok Hingga 2%, Tertekan Rupiah dan Aksi Jual Saham Konglomerasi

Jakarta IHSG ambles lagi. Kamis (23/4/2026) kemarin, indeks saham utama kita nyaris menyentuh titik kritis. Bukan cuma satu faktor, tapi kombinasi tekanan geopolitik, rupiah yang loyo, plus aksi jual di saham-saham konglomerasi bikin pasar makin tertekan.

Menjelang sore, sekitar pukul 15.12 WIB, IHSG tercatat turun 1,94% ke level 7.395,15. Sempat juga menyentuh 7.385,29 itu level terendah harian setelah ambles hingga 2,07%. Artinya, ini hari keempat berturut-turut indeks merah.

BRI Danareksa Sekuritas bilang, tekanan di pasar belum reda. Malah, potensi pelemahan jangka pendek masih terbuka lebar. Ketidakpastian global? Masih tinggi. Meski ada kabar perpanjangan gencatan senjata di Timur Tengah, pasar belum juga tenang. Buktinya? Harga minyak masih nangkring tinggi: WTI di kisaran USD94 per barel, Brent USD103.

Di sisi lain, rupiah juga ikut-ikutan terpuruk. Mata uang Garuda yang sempat di Rp17.000-an, kini merosot ke level terendah Rp17.300 per dolar AS. Penyebabnya campur aduk: sentimen global yang tak menentu dan arus modal asing yang kabur.

Nah, yang bikin IHSG makin berat, saham-saham big cap ikut ambrol. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik Grup Barito dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari Sinarmas, dua di antaranya. Pasar khawatir saham-saham ini bakal didepak dari indeks global maupun indeks utama domestik. Kekhawatiran itu yang memicu aksi jual.

Menurut analis BRI Danareksa, secara teknikal IHSG sekarang menghadapi tembok resistance di 7.650–7.750. Support terdekat ada di 7.500. Kalau jebol, bukan tak mungkin IHSG bakal merosot ke area gap di kisaran 7.300–7.305. Lumayan curam.

“Selama IHSG belum mampu kembali ke atas 7.650, tren jangka pendek masih berada dalam fase bearish consolidation,” tulis mereka dalam riset.

Jadi, buat investor, keputusan jual-beli saham tetap di tangan masing-masing. Pasar lagi panas-panasnya, waspada itu wajib.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar