Harga CPO Menguat Ditopang Ekspektasi Penurunan Produksi, Ketidakpastian B50 dan Aturan Ekspor Jadi Penghambat

- Senin, 08 Juni 2026 | 16:00 WIB
Harga CPO Menguat Ditopang Ekspektasi Penurunan Produksi, Ketidakpastian B50 dan Aturan Ekspor Jadi Penghambat

Harga minyak sawit mentah (CPO) berhasil menguat pada perdagangan Senin (8/6/2026) setelah mengalami pelemahan dalam dua sesi beruntun. Kenaikan ini terutama didorong oleh ekspektasi pasar terhadap penurunan produksi pada bulan Mei, meskipun potensi penguatan lebih lanjut masih terhambat oleh ketidakpastian seputar kebijakan mandat biodiesel B50 di Indonesia serta aturan ekspor yang baru.

Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives tercatat naik 0,57 persen menjadi 4.580 ringgit per ton pada pukul 14.54 WIB. Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, Anilkumar Bagani, menjelaskan bahwa pergerakan harga yang lebih tinggi ini dipicu oleh perkiraan pelaku pasar bahwa penurunan produksi minyak sawit Malaysia pada Mei akan lebih besar dari proyeksi sebelumnya. Selain faktor produksi, pelemahan nilai tukar ringgit dan pemulihan harga energi juga turut memberikan sokongan bagi pasar.

Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) dijadwalkan akan merilis data bulanan mengenai pasokan dan permintaan pada 10 Juni mendatang. Data ini dinilai krusial karena akan menjadi indikator utama bagi arah pergerakan harga selanjutnya.

"Pemulihan kontrak berjangka minyak kedelai di Chicago juga membantu menopang harga," ujar Bagani dalam pernyataannya.

Namun, di sisi lain, Bagani menambahkan bahwa ketidakjelasan implementasi kewajiban pencampuran biodiesel berbasis sawit sebesar 50 persen (B50) di Indonesia masih menjadi faktor penghambat. Potensi penjualan agresif minyak sawit Indonesia di pasar tunai menjelang penerapan penuh sistem ekspor yang baru juga dinilai dapat membatasi laju pemulihan harga minyak sawit Malaysia.

Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) mencatat kenaikan sebesar 0,59 persen. Sebaliknya, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian justru turun 0,82 persen, dan kontrak minyak sawitnya melemah 0,54 persen. Pergerakan ini menunjukkan bahwa minyak sawit umumnya mengikuti dinamika harga minyak nabati pesaing karena bersaing langsung dalam merebut pangsa pasar global.

Dari sektor energi, harga minyak Brent melonjak lebih dari tiga dolar AS per barel. Kenaikan awal dipicu oleh serangan baru Israel ke Lebanon sehari sebelumnya, dan semakin menguat setelah terdengar suara ledakan di Iran. Penguatan harga minyak mentah ini membuat minyak sawit menjadi pilihan yang lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Di sisi moneter, ringgit Malaysia yang merupakan mata uang perdagangan minyak sawit melemah 1,07 persen terhadap dolar AS. Pelemahan ini membuat komoditas tersebut menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing, sehingga berpotensi meningkatkan permintaan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar