Dua perusahaan yang baru saja melantai di bursa mengalami fenomena menarik. Jumlah pemegang saham mereka menyusut drastis bahkan lebih dari 80 persen hanya dalam tiga bulan pertama di tahun 2026. Kedua emiten itu adalah PT Abadi Lestari Indonesia (RLCO), produsen sarang walet, dan PT Super Bank Indonesia (SUPA), bank digital. RLCO lebih dulu IPO pada 8 Desember 2025, sementara SUPA menyusul sembilan hari kemudian.
Menurut data yang beredar, penurunan jumlah investor ini benar-benar tajam. Ambil contoh SUPA. Pada akhir Maret lalu, jumlah pemegang sahamnya tercatat 107.501 SID. Angka itu turun 9.637 dari posisi Februari. Tapi ini bukan penurunan pertama. Sejak Januari, grafiknya sudah mulai melorot. Pada bulan pertama tahun itu saja, jumlah investornya sudah berkurang 121.771 SID.
Padahal, ceritanya berbeda sama sekali saat mereka baru IPO. Desember lalu, suasana masih ramai. Setelah penawaran perdana, jumlah investor SUPA membengkak jadi 696.202 SID. Bahkan di akhir bulan, masih ada tambahan 263.395 SID. Euforia singkat, rupanya.
Memasuki Januari, trennya berbalik arah. Dalam rentang tiga bulan Januari hingga Maret SUPA kehilangan 588.701 investor. Itu artinya, 84,56% pemegang saham awal mereka sudah pergi.
Di sisi lain, nasib RLCO bahkan lebih dramatis. Penurunan jumlah pemegang sahamnya mencapai 93,30% sepanjang kuartal I-2026. Bayangkan, dari 518.156 SID saat listing, kini hanya tersisa 34.711 SID. Jatuhnya bertahap, tapi konsisten.
Setelah mencatatkan lonjakan di akhir Desember 2025 tambah 279.042 SID jumlah investor RLCO langsung anjlok di Januari jadi 79.850 SID. Februari turun lagi ke 40.238, dan Maret menyusut tipis ke level 34.711. Jika dihitung sejak listing, mereka telah kehilangan 483.445 investor. Cukup fantastis untuk periode yang singkat.
Lalu, bagaimana dengan pergerakan harganya? Menariknya, meski ditinggal banyak investor, harga saham justru menunjukkan performa berbeda. Per 15 April 2026, SUPA bertengger di sekitar Rp930 per saham, hanya naik tipis 0,54% year to date. Sebaliknya, RLCO justru melesat. Sahamnya kini diperdagangkan di kisaran Rp6.575, atau melambung 238% sejak awal tahun. Sebuah kontras yang patut dicermati.
(Nadya Kurnia)
Artikel Terkait
28 Saham Mid-Big Cap Catat PBV di Bawah 1, Sinyal Value Investing?
Direktur MSIN Buka Suara Soal Volatilitas Saham dan Rencana Secondary Listing
MNC Sekuritas Gelar Instagram Live Bahas Potensi dan Risiko Waran Terstruktur
Grup Bakrie Pacu Restrukturisasi Modal Lewat Rights Issue dan Private Placement