Perkiraan ekspor untuk sepuluh hari pertama April itu sendiri dijadwalkan dirilis lembaga pemantau kargo hari ini juga. Jadi, kita tunggu saja datanya.
Di sisi lain, pasar minyak nabati lain justru bergerak beragam. Di Dalian, minyak kedelai naik 0,61 persen, sementara minyak sawitnya naik lebih tinggi, 1,12 persen. Sedangkan di Chicago, harga minyak kedelai cuma menguat tipis 0,01 persen. Seperti biasa, pergerakan CPO memang kerap mengikuti harga minyak nabati pesaing karena mereka berebut pangsa pasar yang sama.
Faktor lain yang perlu dicatat adalah harga minyak mentah dunia yang naik. Kekhawatiran pasokan dari Arab Saudi dan lalu lintas tanker di Selat Hormuz yang masih terbatas mendorong kenaikan. Ini bisa jadi angin segar untuk CPO, karena membuatnya lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Bagaimana dengan permintaan? India, sebagai pembeli terbesar, punya ekspektasi. Impor mereka turun 19 persen ke level terendah tiga bulan pada Maret. Tapi ada harapan restocking menjelang musim permintaan yang biasanya meningkat.
Sementara itu, dari sisi regulasi, Indonesia selaku produsen terbesar dunia baru saja menerbitkan aturan baru. Aturan ini menguraikan jadwal pelaksanaan mandat biofuel nasional, yang tentu bisa mempengaruhi pasar ke depannya.
Jadi, meski data stok membaik, sentimen pasar masih diliputi kehati-hatian. Semuanya kembali lagi pada kemampuan ekspor menyerap produksi yang melimpah di musim puncak ini.
Artikel Terkait
INET (Sinergi Inti Andalan Prima) Ekspansi ke Bisnis Perdagangan Peralatan Telekomunikasi
IHSG Naik 6,14%, Saham TRUK Melonjak Lebih dari 100%
Zyrex Dapat Kredit Rp178,8 Miliar dari Bank Permata untuk Ekspansi
Harga Emas Antam Naik Tipis, Buyback Melonjak Lebih Signifikan