Ia pun menyampaikan apresiasi. KKKS diakuinya telah mengalokasikan ulang kuota ekspor mereka, sekitar 30 persen, untuk mengisi cadangan domestik. Langkah itulah yang akhirnya menenangkan situasi. "Mulai dua hari kemarin, LPG kita cadangannya sudah di atas 10 hari, sudah mendekati normal. Jadi tidak perlu keraguan lagi," tambahnya.
Di sisi lain, akar masalahnya sebenarnya masih ada. Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam dari Ditjen Migas Kementerian ESDM sebelumnya telah membeberkan soal ini. Kebijakan pengalihan ekspor tadi memang sebuah ikhtiar untuk mengurangi ketergantungan impor LPG, yang selama ini masih sangat tinggi.
Produksi dalam negeri, sayangnya, belum sanggup memenuhi seluruh kebutuhan. Alhasil, pasokan masih banyak mengandalkan impor. Tantangannya makin berat dengan situasi geopolitik global yang tidak stabil, termasuk gangguan potensial di jalur distribusi vital seperti Selat Hormuz.
"LPG yang selama ini digunakan oleh industri kami upayakan dialihkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama LPG 3 kg yang sangat dibutuhkan," jelas Rizwi dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Rabu (8/4).
Jadi, meski napas lega sudah bisa dihembuskan, kewaspadaan jelas tak boleh kendur. Pemerintah sepertinya menyadari, jalan menuju kemandirian energi masih panjang dan penuh tikungan.
Artikel Terkait
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Yield Capai 8,4%
Cimory Bagikan Dividen Rp1,59 Triliun dari Laba Bersih Rp2,03 Triliun
IHSG Melonjak 2,07%, Sentimen Beli Dominasi Pasar Saham
Saham TRUK Melonjak 24,73% Meski Rugi, WBSA IPO Diserbu Investor