Upaya Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengungkap data kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi dinilai bisa jadi langkah penting. Tujuannya? Memulihkan kepercayaan investor yang sempat goyah. I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, menyebut langkah ini bukan hal baru di kancah global.
“Jadi yang saya ingin sampaikan, ini adalah international best practices yang memberikan informasi yang lebih kaya kepada investor kita,” ujarnya di Gedung BEI, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, bursa seperti Hong Kong sudah lebih dulu menerapkan aturan serupa. Transparansi semacam ini, katanya, bisa jadi penarik minat investor. Baik lokal maupun asing. Dengan informasi yang lebih terbuka, investor punya gambaran lebih jelas sebelum memutuskan untuk menanamkan modalnya.
Nyoman mengaku sudah bertemu langsung dengan sembilan perusahaan yang masuk dalam daftar itu. Pertemuan itu dimaksudkan untuk memberi ruang bagi emiten agar berbenah. Misalnya, lewat aksi korporasi tertentu yang bisa membuka peluang bagi investor publik untuk ikut memiliki saham.
Artikel Terkait
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Yield Capai 8,4%
Cimory Bagikan Dividen Rp1,59 Triliun dari Laba Bersih Rp2,03 Triliun
IHSG Melonjak 2,07%, Sentimen Beli Dominasi Pasar Saham
Saham TRUK Melonjak 24,73% Meski Rugi, WBSA IPO Diserbu Investor