Di sisi lain, laporan kinerja laba bank-bank besar justru menunjukkan daya tahan yang cukup mengesankan. Laba kumulatif lima bank raksasa tumbuh 10,7% year-on-year hingga Februari 2026. Ini didorong oleh penurunan biaya kredit dari basis tinggi tahun sebelumnya, plus perbaikan biaya dana berkat likuiditas yang melimpah.
Beberapa bank bahkan catatkan pertumbuhan yang cukup tajam. BRI, Mandiri, dan Bank Syariah Indonesia (BSI) masing-masing naik sekitar 17%. Sedangkan BCA dan BNI tumbuh lebih moderat, di kisaran 3-4%. Pertumbuhan kredit yang lebih lambat dan biaya kredit yang lebih tinggi jadi penyebabnya.
Nah, soal valuasi, inilah yang bikin banyak orang melirik. Sektor perbankan saat ini dinilai sedang dalam posisi menarik. Tekanan sentimen global telah mendorong harga saham bank-bank besar turun hingga level yang jarang terjadi sekitar minus 2 standar deviasi dari rata-rata 20 tahun untuk metrik PE dan PBV. Bisa dibilang, ini membuka peluang kenaikan yang lumayan ketika kondisi makro nantinya mulai stabil.
Dalam rekomendasinya, Sucor Sekuritas tetap mengutamakan bank berkapitalisasi besar. BCA dan BSI jadi pilihan utama mereka. BCA dinilai unggul karena fokusnya pada segmen nasabah affluent dan manajemennya yang konservatif, yang menghasilkan pertumbuhan laba stabil. Sementara BSI diuntungkan oleh momentum pertumbuhan perbankan syariah yang masih bagus, dengan portofolio kredit yang sifatnya lebih defensif.
Seperti biasa, semua keputusan investasi ada di tangan Anda sendiri. Riset ini cuma memberi gambaran, bukan perintah beli.
Artikel Terkait
BEI Soroti Sembilan Emiten dengan Kepemilikan Saham Terlalu Terkonsentrasi
IHSG Bangkit Usai Gencatan Senjata, Analis Ingatkan Risiko Masih Membayangi
Gencatan Senjata AS-Iran Pacu Bursa Asia Menguat, Investor Tetap Waspada
IHSG Menguat Hampir 1 Persen di Awal Perdagangan Jumat