Likuiditas perbankan nasional masih terlihat terjaga, kok. Ini kabar baik di tengah tekanan ekonomi global yang sepertinya belum mau benar-benar reda. Riset terbaru dari Sucor Sekuritas, yang dirilis awal April 2026, menyoroti ketahanan sektor ini. Analis Edward Lowis yang menulis riset itu menilai fundamental perbankan kita tetap solid, meskipun ada angin pelan dari sisi pertumbuhan kredit dan bayang-bayang risiko geopolitik yang bisa memperlambat pemulihan.
Angkanya begini: pertumbuhan kredit per Februari 2026 masih di level 9,4% year-on-year. Memang turun sedikit dari 10% di bulan sebelumnya, tapi tetap bisa dibilang kuat. Yang menarik, ekspansi ini ditopang hampir sepenuhnya oleh kredit investasi yang melonjak 22,3%. Sementara itu, kredit modal kerja dan konsumsi tumbuh lebih pelan, masing-masing 3,9% dan 6,6%. Ini agaknya mencerminkan kondisi yang belum terlalu bergairah di segmen mass market dan UMKM.
Dari sisi likuiditas, kondisinya justru longgar. Rasio LDR turun tipis jadi 84%, dari sebelumnya 85% di akhir 2025. Artinya, kapasitas bank untuk menyalurkan kredit masih besar. Bank juga dapat dana murah (CASA) yang tumbuh 14%, lebih cepat dari deposito berjangka. Tren ini lumayan membantu menekan biaya dana, apalagi sejak suku bunga deposito mulai turun di awal tahun.
Tapi, jangan senang dulu. Edward Lowis mengingatkan ada beberapa hal yang bisa bikin rencana berantakan. Ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga BBM yang sulit ditebak berpotensi menunda pemulihan kredit. Pemulihan yang sebelumnya diharapkan terjadi di paruh kedua 2026, bisa molor lagi. Alhasil, bank-bank pun cenderung main aman, lebih berhati-hati untuk menjaga kualitas asetnya di tengah tekanan daya beli masyarakat.
Memang, rasio kredit bermasalah (NPL) secara keseluruhan masih stabil. Namun, ada tekanan awal yang mulai terlihat, terutama di kredit modal kerja. NPL segmen ini naik ke 2,5% dari 2,4%. Pertumbuhannya juga melambat cukup tajam, dari 7,5% menjadi hanya 3,9%. Untuk kredit investasi dan KPR, kenaikan NPL-nya tipis, sementara kredit konsumsi masih bertahan.
Edward menulis dalam risetnya,
Artikel Terkait
BEI Soroti Sembilan Emiten dengan Kepemilikan Saham Terlalu Terkonsentrasi
IHSG Bangkit Usai Gencatan Senjata, Analis Ingatkan Risiko Masih Membayangi
Gencatan Senjata AS-Iran Pacu Bursa Asia Menguat, Investor Tetap Waspada
IHSG Menguat Hampir 1 Persen di Awal Perdagangan Jumat