Memang, gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan itu belum berarti damai sepenuhnya. Di saat yang sama, Israel justru meningkatkan intensitas perang paralelnya di Lebanon. Situasi tetap rumit.
Perlu diingat, perjalanan emas belakangan ini tidak mulus. Sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari, harga emas spot tercatat sudah anjlok 10 persen. Kala itu, lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi akut, yang pada gilirannya memangkas harapan investor akan penurunan suku bunga.
Dan suku bunga tinggi adalah musuh bagi aset seperti emas yang tidak memberikan imbal hasil. Ironisnya, meski dikenal sebagai lindung nilai inflasi, logam mulia ini justru kerap tertekan ketika bank sentral bersikap agresif menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi.
Risalah rapat The Fed Maret lalu mengungkap kekhawatiran itu. Semakin banyak pembuat kebijakan yang menilai kenaikan suku bunga mungkin masih diperlukan. Inflasi AS, yang terpacu oleh dampak perang, masih jauh melampaui target 2 persen mereka.
Nah, akhir pekan ini akan menjadi momen penting. Dua indikator inflasi kunci AS, yaitu Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) dan Indeks Harga Konsumen (CPI), akan dirilis. Data-data inilah yang akan memberi gambaran lebih jelas tentang arah kebijakan The Fed ke depan.
Emas bukan satu-satunya yang bergerak. Logam mulia lainnya juga meroket. Perak spot melonjak 3,3 persen, platinum naik 5,3 persen, dan paladium bahkan meroket 7,6 persen. Pasar tampaknya sedang mencari napas setelah bulan-bulan yang penuh gejolak.
Artikel Terkait
Ketegangan di Selat Hormuz dan Serangan Israel Picu Lesunya Pasar Saham Asia
Harga Emas Antam Turun Rp50 Ribu per Gram, Buyback Anjlok Rp59 Ribu
IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan, Analis Soroti Enam Rekomendasi Saham
Analis Proyeksikan Harga CPO Naik Didorong Kebijakan B50 Mulai 2026