Tak cuma tembaga, aluminium juga ikut merangkak naik. Kontrak tiga bulannya naik 0,5 persen menjadi USD3.493,50 per ton. Menurut pandangan analis ANZ Research, logam ini masih mendapat dukungan dari gangguan pasokan yang belum sepenuhnya terselesaikan, meski gencatan senjata sudah di depan mata.
Reaksi pasar secara keseluruhan terlihat sangat positif. Kabar gencatan senjata dua pekan itu benar-benar memicu reli sentimen risiko. Harga minyak, misalnya, justru anjlok tajam. Minyak mentah AS terpangkas sekitar 16 persen ke USD94,59 per barel, sementara Brent merosot 15 persen ke USD92,35 per barel. Pelaku pasar berharap aliran minyak dan gas melalui selat strategis itu bisa segera pulih normal.
Di sisi lain, pasar saham merespons dengan euforia. Futures S&P 500 melonjak lebih dari 2 persen, dan indeks saham Asia ikut meroket. Semua ini mengindikasikan kembalinya minat investor terhadap aset berisiko.
Gencatan senjata ini seperti penutup sebuah babak yang menegangkan. Ia mengakhiri periode volatilitas tinggi yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran akhir Februari lalu. Saat itu, Teheran membalas dengan menutup Selat Hormuz jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Kini, dengan janji pembukaan kembali, pasar seolah bisa bernapas lega, setidaknya untuk sementara waktu.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp19.000 per Gram, Galeri24 dan UBS Ikut Menguat
Bursa Asia Melonjak, Harga Minyak Anjlok Usai AS-Iran Sepakat Gencatan Senjata
Analis Prediksi IHSG Berpeluang Rebound, Level 7.050 Jadi Kunci
IHSG Melonjak 2,75% di Awal Sesi, Semua Sektor Berbalut Hijau