Bursa Asia pagi ini benar-benar bergairah. Sentimen positif langsung menyapu seluruh pasar regional, tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Gencatan itu direncanakan berlangsung selama dua pekan, dan kabar itu langsung disambut dengan reli besar-besaran.
Alasannya sederhana: harapan bahwa ketegangan geopolitik yang selama ini mencemaskan investor akan segera mereda. Di sisi lain, harga minyak dunia justru terjun bebas. Penurunan tajam ini tentu melegakan, terutama bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi. Kekhawatiran akan inflasi yang dipicu komoditas pun langsung berkurang.
Pergerakan indeks saham pagi ini cukup dramatis. Di Tokyo, Nikkei melesat 5,04 persen. Sementara di Seoul, Kospi Korea Selatan bahkan naik lebih tinggi, 5,97 persen, didorong oleh penguatan saham-saham chip. Tak ketinggalan, bursa Australia dan Tiongkok juga ikut menguat. S&P/ASX 200 naik 2,58 persen, Shanghai Composite bertambah 1,76 persen, dan Hang Seng Hong Kong naik 2,61 persen. Singapura lebih moderat, dengan STI menguat 0,59 persen.
Lantas, apa isi kesepakatan itu? Menurut laporan, Trump menyetujui penghentian serangan ke Iran dengan satu syarat utama: Selat Hormuz harus segera dibuka kembali. Jalur air sempit itu adalah urat nadi perdagangan minyak global, mengalirkan sekitar seperlima pasokan dunia. Penutupannya sebelumnya sempat mengacaukan pasokan, tak hanya minyak tetapi juga komoditas lain seperti pupuk.
Iran, melalui Dewan Keamanan Nasionalnya, dikabarkan telah menyetujui untuk memberikan "lintasan aman" bagi kapal-kapal. Negosiasi lebih lanjut dengan AS dijadwalkan dimulai Jumat ini.
Tapi, jangan dulu bertepuk tangan. Analis pasar tetap menyimpan sikap hati-hati.
“Perkembangan ini jelas positif, tapi ujian sebenarnya adalah apakah ini menjadi kesepakatan tahan lama, bukan sekadar jeda rapuh,” kata Charu Chanana, analis Saxo Markets.
Peringatan serupa datang dari Josh Gilbert, analis eToro. Meski mengakui bahwa turunnya harga minyak meringankan tekanan inflasi dan membuka jalan bagi saham, ia mengingatkan agar investor tidak lengah.
“Investor jangan terlalu cepat senang. Trump sebelumnya sering memperpanjang tenggat, dan jendela dua minggu bukan penyelesaian permanen,” ujarnya.
Di pasar komoditas, penurunan harga minyak terlihat jelas. Pagi ini, harga minyak WTI anjlok 14 persen ke level USD 97,59 per barel. Sementara minyak Brent jatuh 12,5 persen ke USD 95,65. Keduanya kini tercatat di bawah level psikologis 100 dolar AS.
Menurut Michael Brown dari Pepperstone, sentimen risiko yang membaik ini wajar. Pasar sudah lama menunggu langkah konkret untuk meredakan ketegangan. “Jadi, wajar jika investor kini kembali agresif,” katanya.
Efek positifnya juga merambah ke pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah Asia turun, menandakan harganya yang menguat. Imbal hasil Jepang turun 4,5 basis poin, Australia turun 10 basis poin, dan Selandia Baru turun 9 basis poin.
Mayoritas mata uang regional pun menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menguat 1,1 persen, baht Thailand naik 1 persen. Dolar Australia dan dolar Selandia Baru juga naik masing-masing 1,1 persen dan 1 persen. Hanya yen Jepang yang sedikit melemah 0,6 persen.
Jadi, meski ada optimisme yang meluas, nuansa kehati-hatian masih jelas terasa. Dua pekan ke depan akan menjadi penentu apakah reli ini punya fondasi yang kuat, atau hanya sekadar euforia sesaat.
Artikel Terkait
Gubernur The Fed Christopher Waller Serukan Penghapusan Bias Pelonggaran, Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga
Danantara Resmi Bentuk Perusahaan Dagang Ekspor Komoditas, Mulai Operasi Juni 2026
Gaji TKI di Jepang Capai Rp55 Juta per Bulan, Ini Rincian dan Potongannya
BRI dan Unsoed Resmi Luncurkan Program Desa BRILiaN 2026 untuk Transformasi Desa Berbasis Teknologi