Pasar saham Asia tampak gamang pada Selasa (7/4/2026). Investor jelas sedang bermain aman, menimbang-nimbang situasi yang memanas di Timur Tengah. Tenggat waktu kesepakatan antara AS dan Iran yang kian mepet bikin semua orang tegang.
Dan lihat saja harga minyak, masih bertengger di sekitar USD110 per barel. Angka itu seperti cermin dari kekhawatiran mendalam: pasokan energi global bisa saja terganggu kapan pun.
Konflik yang meledak sejak akhir Februari antara AS-Israel dan Iran masih jadi bayangan hitam. Teheran menutup Selat Hormuz, jalur yang vital buat sekitar seperlima minyak dunia. Efeknya langsung terasa. Kekhawatiran inflasi makin jadi, dan banyak pelaku pasar memilih untuk menahan dulu uangnya, menunggu situasi lebih jelas.
Tak heran harga minyak tetap kuat. Brent naik 0,4% ke USD110,19 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat lebih gede lagi, 0,8%, mencapai USD113,31.
Di lantai bursa, gambarnya berwarna-warni. Indeks MSCI Asia Pasifik (di luar Jepang) naik sekitar 0,4%. Tapi Nikkei Jepang berakhir turun 0,2% setelah seharian fluktuatif. Singapura lemes sedikit, Strait Times melemah 0,20%.
Namun begitu, ada juga yang hijau. Shanghai Composite China menguat 0,49%. KOSPI Korea Selatan naik tipis 0,02%. Yang paling mencolok adalah ASX 200 Australia, melonjak 1,40%. Hong Kong? Masih libur Paskah.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat Didorong Harapan Negosiasi Damai di Timur Tengah
BSA Logistics Resmi IPO, Kumpulkan Rp304 Miliar untuk Akuisisi
Presiden Prabowo Serukan Hemat Energi dan Transisi ke Listrik Meski SDA Melimpah
Komisaris Utama TOBA Bacelius Ruru Mundur untuk Regenerasi