Futures Wall Street mengindikasikan pembukaan negatif, turun 0,55%. Tapi pasar Eropa justru diperkirakan akan dibuka lebih tinggi setelah libur panjang.
Sebenarnya ada secercah sentimen positif dari proyeksi laba rekor Samsung Electronics. Tapi itu semua seperti tenggelam. Perhatian utama pasar tetap nempel banget pada Iran.
Kyle Rodda, Senior Market Analyst Capital.com, bilang pasar saat ini kembali terjebak dalam hitung mundur kebijakan Presiden AS Donald Trump.
Menurut Rodda, reaksi trader pun terbelah. Ada yang mungkin nekat ambil posisi spekulatif, sementara investor lain memilih lindung nilai atau sekadar menunggu di pinggir lapangan.
Di sisi lain, Iran bersikukuh dengan posisinya. Mereka menginginkan akhir perang yang permanen, bukan cuma gencatan senjata sementara. Mereka juga ogah membuka kembali Selat Hormuz hanya karena tekanan.
Trump sendiri sudah mengeluarkan peringatan keras. Iran bisa "dihabisi" kalau tidak memenuhi tenggat. Ancaman itu bahkan spesifik: menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di negara tersebut. Suasana memang mencekam, dan pasar merespons dengan penuh kehati-hatian.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat Didorong Harapan Negosiasi Damai di Timur Tengah
BSA Logistics Resmi IPO, Kumpulkan Rp304 Miliar untuk Akuisisi
Presiden Prabowo Serukan Hemat Energi dan Transisi ke Listrik Meski SDA Melimpah
Komisaris Utama TOBA Bacelius Ruru Mundur untuk Regenerasi