Menurutnya, pergerakan harga pekan depan akan cenderung menguat, bergerak dari kisaran 99 dolar AS dan berusaha mendekati level 116 dolar AS per barel. Sentimen geopolitik ini dinilai masih jauh lebih kuat pengaruhnya ketimbang faktor fundamental pasar lainnya.
Lalu, bagaimana dengan penguatan dolar AS yang biasanya jadi penekan harga komoditas? Tampaknya, dalam situasi seperti sekarang, efeknya terbatas. Ketidakpastian yang tinggi membuat kekhawatiran soal pasokan mengalahkan segalanya. Pelaku pasar sibuk menghitung ulang risiko gangguan produksi dan distribusi dari Timur Tengah, sang raja pemasok energi dunia.
Dampaknya jelas akan luas. Ibrahim memperingatkan, lonjakan harga minyak ini bukan cuma angka di layar monitor trader. Imbasnya akan terasa hingga ke perekonomian global: tekanan inflasi yang makin menggila dan beban impor energi yang membengkak, khususnya bagi negara berkembang seperti Indonesia.
Efek domino pun sulit dihindari. Sektor transportasi, harga barang dan jasa, semuanya bisa ikut terdongkrak. Kalau tidak diantisipasi dengan kebijakan yang jitu, tekanan pada daya beli masyarakat bisa makin berat.
Dengan volatilitas yang diperkirakan masih tinggi ke depan, baik pelaku pasar maupun pemerintah diminta untuk jangan lengah. Mencermati setiap gejolak geopolitik dan pergerakan harga energi global jadi keharusan. Situasinya memang rumit, dan kita semua harus siap dengan konsekuensinya.
Artikel Terkait
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar