Faktornya nggak cuma satu. Menurut penjelasannya, ketegangan di Timur Tengah ditambah perang Rusia-Ukraina telah mendorong investor global mengalihkan dananya dari aset berisiko. Mereka lari ke emas dan juga dolar AS. Ya, dua-duanya sama-sama diincar saat situasi sedang kacau seperti sekarang.
Di sisi lain, penguatan dolar AS itu sendiri justru jadi berita buruk buat rupiah. Ibrahim memproyeksikan mata uang kita berpotensi melemah sampai ke kisaran Rp17.100 per USD dalam waktu dekat. Penyebabnya berlapis.
"Ketika harga minyak naik dan dolar menguat, kebutuhan devisa untuk impor energi juga meningkat. Ini yang memberi tekanan tambahan pada rupiah," tuturnya.
Belum lagi ada arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kebijakan bank sentral AS yang dianggap akan mempertahankan suku bunga tinggi turut memperkuat dolar, sekaligus memperbesar tekanan terhadap mata uang kita.
Tapi di balik semua gejolak ini, ada hal mendasar yang menopang emas. Permintaan dari bank-bank sentral global diperkirakan tetap kuat. Jadi, meski mungkin ada koreksi jangka pendek, tren naiknya harga emas ke depan masih punya pijakan yang kokoh. Skenarionya memang kompleks, dan pekan depan akan jadi penentu.
Artikel Terkait
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar