Pasar saham kita pekan depan diprediksi masih bakal bergoyang. Volatilitas tinggi tampaknya akan terus menghantui IHSG, didorong oleh ketidakpastian global yang makin menjadi, ditambah dengan beberapa sentimen dalam negeri yang perlu diwaspadai.
Sentimen global itu datang dari arah yang sudah bisa ditebak: Amerika Serikat. Pernyataan terbaru Presiden Donald Trump kembali memicu gejolak di pasar keuangan dunia. Imbasnya, IHSG pun ikut terperosok, anjlok 2,19 persen ke level 7.026,8 di penutupan perdagangan Kamis kemarin.
Dalam pidatonya, Trump menyebut operasi militer AS di Iran hampir rampung. Tapi, di saat bersamaan, dia juga melempar isyarat soal kemungkinan serangan lanjutan dalam dua atau tiga pekan mendatang.
Nah, pernyataan yang terkesan mendua ini justru menciptakan ketidakpastian baru. Kapan konflik benar-benar berakhir? Yang lebih penting, bagaimana nasib jalur distribusi energi global di Selat Hormuz yang vital itu?
Trump cuma bilang, jalur itu akan "terbuka secara alami" setelah perang usai. Rincian dan skema pastinya? Nihil. Tidak jelas.
Artikel Terkait
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar
PLN Tegaskan Tidak Ada Pengembalian Dana untuk Token Listrik yang Salah Beli