Akibat situasi yang serba tak pasti ini, harga minyak mentah dunia langsung melesat. Minyak Brent melonjak 3,25 persen ke level USD104,5 per barel di pagi hari Kamis. Kenaikan belum berhenti di situ pada sore harinya, harga kembali menguat hingga menyentuh USD108,8 per barel.
Lonjakan harga energi ini, tentu saja, jadi berita buruk bagi negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia. Sentimen pasar pun semakin suram.
Tekanan terlihat jelas di seluruh kawasan Asia. Indeks Nikkei Jepang melemah 2,38 persen. Korsel lebih parah, Kospi ambles 4,47 persen. Sementara Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,7 persen. Semua ini menggambarkan satu hal: aversi risiko investor global sedang tinggi-tingginya.
Di tengah bayang-bayang faktor eksternal yang berat, investor lokal juga disarankan untuk jeli melihat perkembangan di dalam negeri. Salah satu yang patut dicermati adalah rencana pengumuman daftar konsentrasi pemegang saham.
Aturan ini bukan main-main. Ia berpotensi mengubah dinamika perdagangan saham domestik, terutama menyangkut likuiditas dan bagaimana pasar memandang tingkat transparansinya. Bisa jadi pemicu pergerakan tersendiri nantinya.
Artikel Terkait
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar
PLN Tegaskan Tidak Ada Pengembalian Dana untuk Token Listrik yang Salah Beli