Yang menarik, dari sembilan nama itu, dua di antaranya adalah bagian dari indeks MSCI Indonesia Large Cap. Kita bicara tentang PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Bobot keduanya di indeks tersebut cukup signifikan, masing-masing 4,21% dan 5,04% per data akhir Februari lalu.
Kebijakan semacam ini sebenarnya mengikuti praktik yang sudah berjalan di bursa Hong Kong. Bedanya, di sana konsekuensinya lebih berat. Saham yang masuk daftar HSC biasanya akan dicoret dan dikeluarkan dari indeks MSCI.
Ini dia kesembilan saham HSC versi BEI:
- PT Rocksfield Properti Indonesia Tbk (ROCK) - 99,85%
- PT Ifishdeco Tbk (IFSH) - 99,77%
- PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) - 98,35%
- PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) - 97,75%
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) - 97,31%
- PT Panca Anugerah Wisesa Tbk (MGLV) - 95,94%
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) - 95,76%
- PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) - 95,47%
- PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) - 95,35%
Artikel Terkait
ADRO Tingkatkan Anggaran Buyback Saham Jadi Rp 5 Triliun
WIKA Catat Kerugian Rp9,75 Triliun di 2025 Meski Raih Kontrak Baru Rp17,46 Triliun
OJK dan BEI Rampungkan Empat Agenda Reformasi Transparansi Pasar Modal
PTPP Lakukan Penyesuaian Akuntansi untuk Perkuat Fondasi Keuangan Jangka Panjang