“Jika MSCI menerapkan perlakuan serupa, saham konstituen MSCI Indonesia yang masuk dalam daftar high shareholding concentration (HSC) berisiko dihapus dari indeks dan tidak akan memenuhi syarat untuk masuk kembali setidaknya selama 12 bulan sejak saham tersebut tercantum dalam daftar HSC,”
begitu bunyi riset Indo Premier.
Tak cuma itu. Saham dalam daftar itu juga dinilai tidak memenuhi syarat untuk dimasukkan ke indeks hingga ada konfirmasi peningkatan free float, minimal sekitar 15%. Nah, di sinilah masalah BREN dan DSSA menjadi krusial.
Tekanan di Balik Angka
Data kepemilikan keduanya memang berada di zona rawan. Free float BREN hanya sekitar 12,30%. DSSA mungkin terlihat lebih baik di laporan dengan 20,4%, tapi setelah penyesuaian dari KSEI, angkanya merosot tajam jadi sekitar 7,6% saja. Konsentrasi yang tinggi.
Sebenarnya, MSCI sudah mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap DSSA sejak Agustus 2025. Kala itu, meski tetap mempertahankan DSSA dalam indeks, MSCI menurunkan Foreign Inclusion Factor (FIF)-nya dengan adjustment factor 0,5. Alhasil, FIF turun dari 25% menjadi sekitar 13%. Sebuah sinyal yang tidak bisa diabaikan.
Jadi, apa dampak sesungguhnya? Tekanan paling langsung akan datang dari dana pasif dan indeks fund yang mengikuti pergerakan MSCI. Jika status HSC memicu penghapusan, arus dana keluar bisa terjadi. Tujuan MSCI sendiri, dalam kerangka analis Indo Premier, bukan untuk menghukum. Melainkan menjaga kualitas indeks agar tetap bisa diikuti dan direplikasi oleh investor global dengan baik.
Ke depan, semua mata kini tertuju pada respons emiten, kebijakan lanjutan BEI dan OJK, dan tentu saja, keputusan final MSCI dalam review indeksnya pada Mei mendatang. Perkembangannya patut dicermati sambil menyadari, segala keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
OJK dan BEI Rampungkan Empat Agenda Reformasi Transparansi Pasar Modal
PTPP Lakukan Penyesuaian Akuntansi untuk Perkuat Fondasi Keuangan Jangka Panjang
BEI Umumkan Daftar Saham dengan Kepemilikan Sangat Terkonsentrasi, BREN dan DSSA Masuk Kategori
IHSG Anjlok 0,99% Pekan Ini, Ditekan Aksi Jual Asing Rp2,95 Triliun