Pasar modal kita menutup pekan ini dengan catatan merah. IHSG terpangkas hampir satu persen, tepatnya 0,99%, ke level 7.026,782. Padahal, pekan sebelumnya indeks masih bertengger di 7.097,057. Pekan ini benar-benar berlangsung fluktuatif, dengan IHSG sempat melesat ke 7.207,166 tapi juga terjun bebas hingga ke 6.945,502.
Tekanan datang dari mana-mana. Arus dana asing yang keluar jadi salah satu biang kerok, dan itu terlihat jelas dari data transaksi harian yang anjlok. Rata-rata nilai transaksi harian merosot tajam, 36,69%, cuma jadi Rp14,77 triliun. Volumenya juga ikut turun 8,62% ke 25,87 miliar saham. Tapi ada yang menarik: frekuensi transaksi malah naik tipis, 3,08%, jadi 1,78 juta kali per hari. Artinya, aktivitas di pasar tetap ramai, meski nilai per transaksinya mengecil.
Secara keseluruhan, dalam sepekan tercatat volume perdagangan 103,47 miliar saham dengan nilai Rp59,08 triliun. Frekuensinya mencapai 7,12 juta kali. Kapitalisasi pasar pun ikut menyusut 1,69% menjadi Rp12.305 triliun.
Tekanan jual dari investor asing begitu nyata. Mereka mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp2,95 triliun. Rinciannya, nilai beli mereka Rp21,82 triliun, tapi nilai jualnya lebih besar: Rp24,76 triliun. Aksi ini jelas memberi beban psikologis tersendiri bagi pasar.
Namun begitu, tidak semua sektor terpuruk. Ada juga yang bersinar. Sektor consumer cyclicals justru meroket 6,58%, diikuti industri ( 3,35%) dan consumer non-cyclicals ( 2,28%). Sayangnya, kinerja positif ini tidak cukup untuk mengangkat indeks secara keseluruhan.
Di sisi lain, sektor transportasi dan logistik jadi yang paling terpukul dengan penurunan 3,57%. Sektor keuangan juga lesu, turun 2,23%. Saham-saham bank berkapitalisasi besar disebut-sebut menjadi penekan utama IHSG pekan ini.
Meski mayoritas melemah, beberapa saham seperti DSSA, MSIN, dan IMPC justru memberi kontribusi positif dan mencoba menahan laju pelemahan.
Kalau dibandingkan dengan bursa global, kinerja IHSG terasa tertinggal. Sementara kita merosot, mayoritas bursa dunia justru menguat. Di ASEAN, indeks Thailand (SET) naik 1,29% dan Singapura (Straits Times Index) menguat 1,01%. Bahkan, bursa-bursa besar seperti Dow Jones AS melonjak 3,10%, FTSE 100 Inggris naik 3,71%, dan indeks Brasil melesat 3,52% dalam periode yang sama. Perbedaan ini tentu membuat kita bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi di dalam negeri.
Artikel Terkait
BRI Salurkan 5.000 Lebih Hewan Kurban ke Seluruh Indonesia saat Idul Adha
BEI Pindahkan GOTO dan BELI ke Papan Pengembangan, 26 Saham Naik Kelas ke Papan Utama
Harga Emas Batangan di Pegadaian Turun saat Iduladha, Antam Terkoreksi ke Rp2,897 Juta per Gram
Chandra Asri Resmi Kelola Pelabuhan Cilegon Selama 56 Tahun