Rabu lalu, para pemegang saham PT Bank Mandiri (BMRI) mendapat kejutan manis. Bank pelat merah itu membagikan dividen interim untuk tahun buku 2025, dengan nilai yang tak main-main: Rp9,3 triliun. Setara dengan Rp100 untuk setiap lembar saham yang mereka miliki.
Pembagian ini ditujukan bagi pemegang saham yang tercatat dalam daftar per 7 Januari 2026. Langkah ini bukan sekadar rutinitas. Banyak yang melihatnya sebagai cerminan dari fundamental perusahaan yang masih sangat kuat, ditambah likuiditas yang terjaga dengan baik. Di sisi lain, ini juga menunjukkan konsistensi Mandiri dalam memberikan nilai tambah bagi investor.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menjelaskan bahwa keputusan bagi-bagi dividen ini sudah dipertimbangkan matang. Kondisi permodalan dan likuiditas bank dinilai lebih dari cukup, sehingga masih menyisakan ruang untuk mendukung ekspansi bisnis ke depannya.
“Pembagian dividen interim ini menjadi bukti konsistensi Bank Mandiri dalam memberikan nilai optimal bagi para pemegang saham,” ujar Riduan.
Pernyataan itu dia sampaikan dalam keterangan resmi, Kamis (14/1/2026). Menurutnya, langkah ini sejalan dengan pengelolaan kinerja perusahaan yang tetap solid.
Tak hanya untuk pemegang saham biasa, dividen ini juga punya makna strategis bagi negara. Mengingat Danantara Indonesia sebagai pemegang saham mayoritas, kontribusi ini bagian dari optimalisasi nilai investasi pemerintah. Sekaligus, tentu saja, memperkuat peran Mandiri dalam mendukung agenda pembangunan nasional.
Lalu, apa yang mendukung kemampuan bagi-bagi dividen sebesar itu? Riduan menambahkan, kinerja keuangan hingga akhir November 2025 tetap solid. Fungsi intermediasi atau penyaluran kreditnya tumbuh positif, bahkan melampaui rata-rata industri.
Secara rinci, penyaluran kredit (bank only) telah menyentuh angka Rp1.452 triliun. Angka yang cukup menggambarkan pertumbuhan yang sehat. Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun mencapai Rp1.584 triliun. Dengan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang bertengger di sekitar 91 persen, kondisi likuiditasnya terlihat sehat dan masih punya ruang untuk berkembang.
Aspek lain yang patut dicatat adalah total aset. Hingga November 2025, aset Bank Mandiri (bank only) telah membengkak hingga Rp2.120 triliun. Angka ini semakin menegaskan ketahanan model bisnis mereka, bahkan di tengah gejolak kebijakan moneter dan ketidakpastian global.
Ke depan, Riduan menegaskan komitmennya.
“Bank Mandiri akan terus menjaga konsistensi kinerja sekaligus memperkuat kontribusi perseroan bagi perekonomian nasional,” pungkasnya.
Upaya itu akan ditempuh melalui sinergi di dalam ekosistem Mandiri Group dan akselerasi di berbagai sektor usaha. Tujuannya satu: agar kinerja bank tetap unggul dan tumbuh berkelanjutan.
Artikel Terkait
PT Brigit Biofarmaka Gelar RUPST 2026 di Solo, Bahas Laporan Keuangan dan Penggunaan Laba
Dominasi Saham Unggulan Warnai Peta Pasar Modal Indonesia pada Maret 2026
Dharma Polimetal Bagikan Dividen Rp326,3 Miliar, Naik 62,8% dari Tahun Lalu
IHSG Naik Tipis, Saham NIRO dan DEFI Melonjak di Atas 34%