Dari sebuah forum publik, Prabowo Subianto tak menyembunyikan nada prihatinnya. Program Koperasi Merah Putih, menurut Presiden, muncul justru karena ia gelisah melihat kondisi masyarakat kecil yang masih saja terbelit utang pada rentenir. Bunga pinjaman yang mencekik itu, baginya, adalah bentuk ketidakadilan yang tak bisa dibiarkan.
"Rentenir itu ngeri," tegas Prabowo, suaranya terdengar berkarakter.
"Dia 1 persen sehari. Ini penindasan manusia ke manusia."
Di sisi lain, pemerintah punya target yang ambisius: membangun hingga 80 ribu koperasi yang nantinya dilengkapi fasilitas pendukung seperti gudang dan cold storage. Tapi Prabowo realistis. Capaian saat ini, sekitar 30 ribu koperasi yang sudah terbentuk, ia anggap sebagai progres yang cukup signifikan.
"Siapa yang mengira kita bisa bikin 80 ribu koperasi lengkap dalam satu tahun? Kan enggak," ujarnya dengan nada retoris.
Persoalan klasik petani, menurut penuturannya, selalu berputar pada akses pembiayaan. Masa tanam hingga panen yang bisa mencapai 120 hari itu rentan sekali. Di tengah jeda waktu yang panjang itu, kebutuhan mendesak kerap muncul istri sakit, anak butuh biaya dan akhirnya memaksa mereka mencari pinjaman cepat ke rentenir.
"Petani ini 120 hari baru panen. Di dalam 120 hari kadang istrinya sakit, jadi dia perlu pinjam uang," ungkapnya menggambarkan dilema itu.
Artikel Terkait
PSM Makassar Dapat Sanksi FIFA Kedua, Suporter Desak Perombakan Manajemen
Kapal Wisatawan Karam di Batubara, 64 Penumpang Selamat
Operasi Ketupat Polres Bone Merambah Destinasi Wisata Libur Lebaran
Gempa Magnitudo 2,4 Guncang Labuhanbatu Utara, Tak Ada Laporan Kerusakan