Perubahan lain yang cukup signifikan adalah kenaikan batas minimum free float menjadi 15 persen. Bahkan, BEI sudah lebih dulu bergerak. Aturan baru yang efektif per 31 Maret 2026 itu menaikkan minimum free float menjadi 15 persen. Skema IPO-nya pun akan pakai sistem tiering: 15 persen, 20 persen, dan 25 persen.
Tapi jangan khawatir, implementasinya nggak serta merta. Menurut BRI Danareksa, ini akan dilakukan bertahap. Perusahaan dengan kapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun, misalnya, punya waktu sampai Maret 2027 untuk memenuhi free float 12,5 persen dulu, baru naik ke 15 persen setahun kemudian. Perusahaan yang lebih kecil bahkan diberi waktu lebih panjang, hingga Maret 2029.
Di sisi lain, tekanan waktu benar-benar terasa. Analis dari WH Project sebelumnya telah memetakan tiga tanggal krusial yang bakal jadi penentu arah pasar. Pertama, tentu saja 7 April 2026. Ini hari di mana FTSE Russell akan mengumumkan review klasifikasi untuk Indonesia. Naik kelas, tetap, atau malah turun?
Kedua, 12 Mei 2026. Momen ini mungkin yang paling ditunggu sekaligus ditakuti. MSCI akan melakukan review indeksnya. Pengumuman mereka sebelumnya saja sudah cukup membuat IHSG limbung.
Dan yang ketiga, 22 Mei 2026. FTSE Russell kembali muncul dengan pengumuman hasil Semi-Annual Index Review. Dari sini akan ditentukan, saham-saham Indonesia mana yang bakal ditambahkan atau justru dicoret dari indeks global mereka, untuk periode implementasi Juni nanti.
Jadi, beberapa pekan ke depan ini benar-benar seperti maraton sprint bagi pasar modal Indonesia. Semua mata tertuju pada keputusan lembaga rating global itu.
Artikel Terkait
IHSG Melonjak 1,45% ke 7.150, Didukung Kenaikan Luas di Semua Sektor
Neraca Perdagangan RI Surplus 70 Bulan Berturut-turut, Ditopang Penuh Sektor Nonmigas
Pasar Saham Asia Melonjak Didorong Harapan Meredanya Konflik Timur Tengah
BEI Cabut Suspensi Saham FITT, Saham ASPR Justru Dikenai Suspensi