Harga minyak dunia akhirnya ambil napas, melemah di penutupan perdagangan Selasa kemarin. Ada secercah harapan, rupanya, yang datang dari rumor perdamaian di Timur Tengah. Sentimen itu cukup kuat untuk menekan harga yang sebelumnya terus meroket.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terpangkas 1,5 persen ke level USD101,38 per barel. Sementara itu, Brent untuk kontrak Juni yang kini paling aktif diperdagangkan anjlok lebih dalam, 2,6 persen menjadi USD104,63. Tapi jangan salah, kontrak Brent untuk pengiriman Mei justru ditutup tinggi di USD118,35 per barel, nyaris sentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir dengan kenaikan harian hampir 5 persen. Pasar jelas masih gamang.
Laporan dari The Wall Street Journal jadi pemicu utama optimisme. Media itu menyebut Presiden AS Donald Trump bersedia menghentikan operasi militernya lebih cepat, bahkan sebelum Selat Hormuz dibuka kembali. Tujuannya sederhana: menghindari perang berkepanjangan. Di sisi lain, Presiden Iran juga menyuarakan keinginan yang sama untuk mengakhiri konflik, meski dengan catatan: negaranya butuh jaminan tertentu.
"Saya pikir pasar minyak akan menentukan akhir dari perang ini,"
kata Peter Cardillo dari Spartan Capital, seperti dikutip Dow Jones Newswires.
"Trump tahu bahwa jika harga minyak naik ke USD125 atau USD130 dan bertahan di level tersebut untuk beberapa waktu, dampaknya akan sangat buruk bagi perekonomian."
Namun begitu, jika melihat perjalanan sepanjang kuartal pertama tahun ini, kondisi pasar masih sangat panas. Kontrak minyak mencatat kenaikan dalam nilai dolar tertinggi sepanjang sejarah. Penyebabnya tak lain adalah perang di Teluk Persia yang hampir memutus total pengiriman lewat Selat Hormuz. Gangguan pasokan ini diperparah dengan serangan-serangan sporadis terhadap kilang dan infrastruktur energi di kawasan itu.
Data dari Dow Jones Newswires menunjukkan betapa dahsyatnya kenaikan itu. WTI melonjak USD43,96 per barel, atau setara dengan 77 persen, sepanjang kuartal. Itu bukan hanya kenaikan terbesar dalam satuan dolar, tapi juga persentase kenaikan tertajam sejak kuartal kedua 2020. Brent pun tak kalah gila, naik 94 persen atau USD57,50 per barel, juga mencetak rekor kenaikan dolar dan persentase tertinggi sejak kuartal ketiga 1990.
"Sekali lagi tekanan besar di pasar muncul setelah pernyataan Presiden Iran. Jika permusuhan segera berakhir, Selat Hormuz dapat dibuka kembali dan pasokan akan kembali ke pasar, sehingga memangkas premi risiko yang selama ini terbentuk dalam harga,"
kata John Kilduff, partner di Again Capital, kepada Reuters.
Faktanya, benchmark minyak internasional sudah empat pekan berturut-turut menguat. Eskalasi perang memicu serangan berantai yang mengganggu infrastruktur energi di Teluk, menciptakan krisis pasokan minyak dan gas terburuk yang pernah tercatat. Survei Reuters mengungkap produksi minyak OPEC anjlok 7,3 juta barel per hari pada Maret, tersungkur ke level 21,57 juta barel per hari terendah sejak puncak pandemi Juni 2020 akibat pemangkasan ekspor paksa.
Sepanjang bulan Maret, pergerakan harga sangat fluktuatif. Setiap kali Trump memberi isyarat akan meredakan operasi militer, harga langsung melemah. Tapi penurunan itu selalu singkat, karena kemudian muncul lagi ancaman Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Jalur sempit itu vital, menjadi saluran bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Trump memang mendorong negara lain untuk membantunya membuka selat itu. Tapi negara-negara Eropa, misalnya, tampak enggan. Mereka tak mau terlibat sebelum konflik benar-benar mereda.
Upaya lain seperti pencabutan sanksi terhadap minyak Rusia dan komitmen melepas cadangan minyak strategis bersama beberapa negara, memang sudah dilakukan AS. Sayangnya, langkah-langkah darurat itu efeknya terbatas, hanya mampu menutup kekurangan pasokan untuk sementara waktu. Perang mungkin akan berakhir, tapi pasar minyak dunia masih menyimpan luka yang dalam.
Artikel Terkait
Harita Nickel Umumkan Buyback Saham Rp1 Triliun, Nilai Fundamental Dinilai Belum Tercermin
Bea Cukai dan BIN Ungkap Pita Cukai Palsu Rp570 Miliar di Semarang, Pengamat Sebut Indikasi Jaringan Besar
Pemerintah Salurkan KUR ke 1.000 UMKM Ekonomi Kreatif Bali, Dorong Akses Pembiayaan dan Daya Saing Usaha
Harga Emas Antam Turun Rp15.000 per Gram, Buyback Ikut Terkoreksi