Wall Street Dibayangi Ketegangan Iran, Minyak Melonjak di Atas $115

- Senin, 30 Maret 2026 | 23:15 WIB
Wall Street Dibayangi Ketegangan Iran, Minyak Melonjak di Atas $115

Ketegangan makin nyata setelah setidaknya 12 tentara AS terluka dalam serangan di Arab Saudi akhir pekan. Yang bikin makin runyam, pemberontak Houthi dari Yaman yang bersekutu dengan Iran ikut meramaikan dengan menyerang Israel untuk pertama kalinya. Ini memperburuk kekhawatiran soal gangguan pasokan energi global.

Analis Vital Knowledge memberi peringatan serius. Jika Houthi menargetkan Selat Bab al-Mandab, krisis pelayaran global yang sudah dipicu penutupan Selat Hormuz bisa "diperparah secara dramatis." Selat itu adalah jalur vital yang menghubungkan Laut Merah ke Samudra Hindia.

Di tengah keributan militer, Trump tiba-tiba bicara soal negosiasi. Dari dalam Air Force One, ia mengatakan pembicaraan dengan Iran berjalan "sangat baik" dan kesepakatan dimungkinkan. Ia bahkan menyebut-nyebut soal "perubahan rezim" di Teheran.

“Saya pikir kita akan mencapai kesepakatan dengan mereka, tetapi mungkin juga tidak,” ujarnya dengan khas.

Kepada reporter lain, ia menambahkan, “Saya melihat kemungkinan kesepakatan dengan Iran, mungkin segera.” Tentu saja tanpa tenggat waktu yang jelas.

Iran sendiri membantah keras telah melakukan pembicaraan langsung dengan Washington sejak perang dimulai. Mereka menuntut penghentian permusuhan dulu sebelum mau berunding.

Namun begitu, di akun Truth Social-nya pada hari Senin, Trump kembali mengulang nada yang sama: diskusi serius sedang berlangsung dengan rezim baru di Iran. Tapi ancamannya tetap menggantung.

"Kemajuan besar telah dicapai. Tapi kalau kesepakatan tidak segera tercapai dan kemungkinan besar memang begitu dan kalau Selat Hormuz tidak dibuka, kami akan akhiri 'kunjungan' kami dengan melenyapkan semua pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg mereka. Mungkin juga semua pabrik desalinasi. Semua itu sengaja belum kami sentuh," tulis Trump.

Ancaman terhadap infrastruktur energi dan pulau penghasil minyak itu jelas bukan main-main. Pasar pun menunggu, sambil terus memantau setiap gejolak dari Teluk Persia.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar