Wall Street Dibayangi Ketegangan Iran, Minyak Melonjak di Atas $115

- Senin, 30 Maret 2026 | 23:15 WIB
Wall Street Dibayangi Ketegangan Iran, Minyak Melonjak di Atas $115

Pasar saham New York buka dengan kondisi beragam di awal pekan. Sentimen investor tampak tercabik-cabik, dihantui ancaman perang yang justru datang dari pernyataan pemimpin mereka sendiri. Donald Trump kembali membuat pernyataan keras soal Iran, yang langsung mendorong harga minyak melesat lebih tinggi.

Beberapa saham bahkan kehilangan momentum keuntungannya setelah Trump menyebut adanya pembicaraan serius dengan Teheran, sambil tak lupa menyelipkan ancaman serangan. Situasinya memang makin panas. Pertempuran di Timur Tengah sendiri sudah memasuki bulan kedua, dan itu cukup untuk membuat harga komoditas energi terus merangkak naik.

Nah, bagaimana pergerakan indeksnya? Pada pukul sepuluh pagi waktu setempat, S&P 500 sedikit menguat 0,1% ke level 6.377,79. Dow Jones, yang diisi deretan saham blue-chip, naik lebih signifikan 0,4% ke 45.330,04. Sementara Nasdaq, barometer saham teknologi, justru melemah tipis 0,1% ke posisi 20.937,52.

Padahal, akhir pekan lalu Wall Street sempat merosot. Penurunan itu terjadi meski Trump memberi kelonggaran waktu bagi Iran hingga 6 April untuk membuka Selat Hormuz. Rupanya, pasar tak begitu percaya dengan jeda waktu itu.

Seorang analis dari Vital Knowledge punya pandangan yang cukup menggambarkan suasana.

“Pasar tetap sangat waspada terhadap Timur Tengah. Pandangan konsensus saat ini masih menunjukkan bahwa konflik tersebut akan meningkat,” tulisnya dalam catatan untuk klien.

Kekhawatiran utamanya jelas: inflasi. Lonjakan harga minyak sejak akhir Februari berpotensi memicu tekanan inflasi baru di berbagai negara. Kalau sudah begini, bank sentral bisa saja menunda atau malah menaikkan suku bunga. Imbasnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut naik, dan itu biasanya menekan harga saham.

Ekspektasi pasar pun berubah drastis. Trader sekarang hampir tidak lagi mengharapkan pemotongan suku bunga oleh The Fed tahun ini. Padahal sebelum perang, mereka masih berharap ada dua kali penurunan. Minggu ini, dengan jadwal yang dipersingkat liburan, data tenaga kerja dan aktivitas bisnis akan jadi perhatian. Belum lagi pidato Ketua Fed Jerome Powell yang dijadwalkan hari ini.

Di tengah semua ini, Brent crude sempat menyentuh angka $115 per barel, tepatnya naik 2.6% ke $115.47. Konflik di lapangan makin rumit. The Wall Street Journal melaporkan, Trump sedang mempertimbangkan operasi militer berisiko tinggi untuk mengamankan stok uranium Iran. Sementara itu, pasukan marinir AS dikabarkan telah tiba di kawasan, memberi lebih banyak opsi militer bagi Presiden.

Laporan The Washington Post bahkan menyebut Pentagon mempersiapkan operasi darat selama berminggu-minggu di Iran. Teheran sendiri sudah bersumpah akan menghancurkan pasukan AS mana pun yang mencoba masuk.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar