Pasar saham New York buka dengan kondisi beragam di awal pekan. Sentimen investor tampak tercabik-cabik, dihantui ancaman perang yang justru datang dari pernyataan pemimpin mereka sendiri. Donald Trump kembali membuat pernyataan keras soal Iran, yang langsung mendorong harga minyak melesat lebih tinggi.
Beberapa saham bahkan kehilangan momentum keuntungannya setelah Trump menyebut adanya pembicaraan serius dengan Teheran, sambil tak lupa menyelipkan ancaman serangan. Situasinya memang makin panas. Pertempuran di Timur Tengah sendiri sudah memasuki bulan kedua, dan itu cukup untuk membuat harga komoditas energi terus merangkak naik.
Nah, bagaimana pergerakan indeksnya? Pada pukul sepuluh pagi waktu setempat, S&P 500 sedikit menguat 0,1% ke level 6.377,79. Dow Jones, yang diisi deretan saham blue-chip, naik lebih signifikan 0,4% ke 45.330,04. Sementara Nasdaq, barometer saham teknologi, justru melemah tipis 0,1% ke posisi 20.937,52.
Padahal, akhir pekan lalu Wall Street sempat merosot. Penurunan itu terjadi meski Trump memberi kelonggaran waktu bagi Iran hingga 6 April untuk membuka Selat Hormuz. Rupanya, pasar tak begitu percaya dengan jeda waktu itu.
Seorang analis dari Vital Knowledge punya pandangan yang cukup menggambarkan suasana.
“Pasar tetap sangat waspada terhadap Timur Tengah. Pandangan konsensus saat ini masih menunjukkan bahwa konflik tersebut akan meningkat,” tulisnya dalam catatan untuk klien.
Kekhawatiran utamanya jelas: inflasi. Lonjakan harga minyak sejak akhir Februari berpotensi memicu tekanan inflasi baru di berbagai negara. Kalau sudah begini, bank sentral bisa saja menunda atau malah menaikkan suku bunga. Imbasnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut naik, dan itu biasanya menekan harga saham.
Ekspektasi pasar pun berubah drastis. Trader sekarang hampir tidak lagi mengharapkan pemotongan suku bunga oleh The Fed tahun ini. Padahal sebelum perang, mereka masih berharap ada dua kali penurunan. Minggu ini, dengan jadwal yang dipersingkat liburan, data tenaga kerja dan aktivitas bisnis akan jadi perhatian. Belum lagi pidato Ketua Fed Jerome Powell yang dijadwalkan hari ini.
Di tengah semua ini, Brent crude sempat menyentuh angka $115 per barel, tepatnya naik 2.6% ke $115.47. Konflik di lapangan makin rumit. The Wall Street Journal melaporkan, Trump sedang mempertimbangkan operasi militer berisiko tinggi untuk mengamankan stok uranium Iran. Sementara itu, pasukan marinir AS dikabarkan telah tiba di kawasan, memberi lebih banyak opsi militer bagi Presiden.
Laporan The Washington Post bahkan menyebut Pentagon mempersiapkan operasi darat selama berminggu-minggu di Iran. Teheran sendiri sudah bersumpah akan menghancurkan pasukan AS mana pun yang mencoba masuk.
Ketegangan makin nyata setelah setidaknya 12 tentara AS terluka dalam serangan di Arab Saudi akhir pekan. Yang bikin makin runyam, pemberontak Houthi dari Yaman yang bersekutu dengan Iran ikut meramaikan dengan menyerang Israel untuk pertama kalinya. Ini memperburuk kekhawatiran soal gangguan pasokan energi global.
Analis Vital Knowledge memberi peringatan serius. Jika Houthi menargetkan Selat Bab al-Mandab, krisis pelayaran global yang sudah dipicu penutupan Selat Hormuz bisa "diperparah secara dramatis." Selat itu adalah jalur vital yang menghubungkan Laut Merah ke Samudra Hindia.
Di tengah keributan militer, Trump tiba-tiba bicara soal negosiasi. Dari dalam Air Force One, ia mengatakan pembicaraan dengan Iran berjalan "sangat baik" dan kesepakatan dimungkinkan. Ia bahkan menyebut-nyebut soal "perubahan rezim" di Teheran.
“Saya pikir kita akan mencapai kesepakatan dengan mereka, tetapi mungkin juga tidak,” ujarnya dengan khas.
Kepada reporter lain, ia menambahkan, “Saya melihat kemungkinan kesepakatan dengan Iran, mungkin segera.” Tentu saja tanpa tenggat waktu yang jelas.
Iran sendiri membantah keras telah melakukan pembicaraan langsung dengan Washington sejak perang dimulai. Mereka menuntut penghentian permusuhan dulu sebelum mau berunding.
Namun begitu, di akun Truth Social-nya pada hari Senin, Trump kembali mengulang nada yang sama: diskusi serius sedang berlangsung dengan rezim baru di Iran. Tapi ancamannya tetap menggantung.
"Kemajuan besar telah dicapai. Tapi kalau kesepakatan tidak segera tercapai dan kemungkinan besar memang begitu dan kalau Selat Hormuz tidak dibuka, kami akan akhiri 'kunjungan' kami dengan melenyapkan semua pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg mereka. Mungkin juga semua pabrik desalinasi. Semua itu sengaja belum kami sentuh," tulis Trump.
Ancaman terhadap infrastruktur energi dan pulau penghasil minyak itu jelas bukan main-main. Pasar pun menunggu, sambil terus memantau setiap gejolak dari Teluk Persia.
Artikel Terkait
10 Emiten dengan Konsentrasi Saham Tinggi Belum Lakukan Aksi Korporasi, BEI Tunggu Langkah Nyata
IHSG Anjlok 1,85 Persen ke 6.599, Seluruh Sektor Tertekan Aksi Jual Massif
IHSG Anjlok 1,85% ke 6.599, Terseret Aksi Jual Masif dan Pelemahan Rupiah
TGKA Bagikan Dividen Final Rp285 per Saham, Jadwal Pembayaran Awal Juni 2026