JAKARTA – Rupiah bersiap menghadapi masa-masa sulit. Dalam beberapa bulan ke depan, tekanan terhadap mata uang kita diprediksi bakal makin berat. Bahkan, ada potensi serius rupiah melemah hingga menyentuh level psikologis Rp20.000 per dolar AS. Apa penyebabnya? Gejolak eksternal yang makin menjadi-jadi. Mulai dari konflik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, sampai arus modal yang kabur mencari tempat aman.
Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies, punya peringatan keras. Menurutnya, cadangan devisa yang terlihat besar tak boleh membuat kita lengah. Sejarah sudah berkali-kali membuktikan, pelemahan rupiah yang tajam bisa terjadi dengan sangat cepat.
"Data historis menunjukkan depresiasi rupiah sebesar 15–20 persen bukan skenario ekstrem, tetapi sudah berulang kali terjadi. Dengan posisi rupiah sekitar Rp17.000 saat ini, pelemahan 20 persen akan membawa kurs ke sekitar Rp20.400 per dolar AS," ujar Anthony.
Jadi, angka Rp20.000 bukan sekadar spekulasi kosong. Ini hitungan yang berdasar data nyata. Dan dalam situasi geopolitik yang makin panas, pelemahan itu bisa terjadi hanya dalam tempo tiga sampai enam bulan saja.
Kalau kita tilik ke belakang, sejak 2014, Indonesia sudah tiga kali mengalami tekanan besar terhadap rupiah. Periode 2014-2015, cadangan devisa anjlok dan rupiah melemah 20 persen. Lalu di 2018, ceritanya mirip. Yang paling segar di ingatan, awal pandemi 2020, dalam sebulan saja rupiah nyaris terdepresiasi 20 persen.
Anthony menekankan satu poin krusial. Besarnya cadangan devisa bukan jaminan keselamatan.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 2,837 Juta per Gram
Bank Maspion Dapat Suntikan Dana Segar US$285 Juta dari Kasikornbank
Analis Prediksi Rupiah Sentuh Rp17.100 Pekan Depan Didorong Gejolak Timur Tengah
PT Pyridam Farma (PYFA) Investasi Rp111,2 Miliar untuk Tingkatkan Kepemilikan di Perusahaan Modal Ventura Singapura