Pekan depan, tepatnya Senin 30 Maret 2026, rupiah diperkirakan bakal menghadapi tekanan berat. Nilai tukarnya terhadap dolar AS diprediksi makin terpuruk. Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, bahkan memberi peringatan serius. Menurutnya, mata uang Garuda berpeluang mencetak level psikologis baru yang bikin was-was, didorong oleh penguatan indeks dolar yang tak terbendung.
“Itu (rupiah) kemungkinan besar akan menuju level Rp17.100. Ingat Rp17.100,”
tegas Ibrahim dalam analisisnya, Minggu (29/3/2026).
Proyeksinya, indeks dolar akan bergerak perkasa di kisaran 99.300 hingga 101.600. Kalau sudah begini, dampaknya langsung terasa: mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, pasti terimpit. Pemicu utama semua ini adalah situasi di Timur Tengah yang makin panas, terutama ancaman pemblokiran Selat Hormuz. Eskalasi militer yang melibatkan Iran, Israel, dan AS telah mengacaukan produksi minyak dunia.
“Geopolitik di Timur Tengah ini pun juga masih rame. Apalagi tentang pembatasan transportasi di Selat Hormuz. Kemudian tentang penyerangan yang ditunda. Perang pun juga masih terus terjadi. Bahkan Timur Tengah sendiri sampai saat ini mengalami pengurangan itu 10 juta barel per hari,”
jelasnya.
Ibrahim menyebut produksi minyak di kawasan itu anjlok sampai 10 juta barel per hari. Masalahnya makin runyam karena serangan Ukraina ke kilang-kilang minyak Rusia turut memicu kelangkaan energi global. Jadi, krisisnya benar-benar multidimensi.
Di sisi lain, di dalam negeri Amerika Serikat sendiri, kepemimpinan Donald Trump mulai goyah. Survei menunjukkan tingkat kepercayaan publik jatuh di bawah 40 persen, salah satunya gara-gara harga BBM yang melambung dan status darurat penerbangan. Namun begitu, pelaku pasar kini justru menanti kepemimpinan baru di Bank Sentral AS. Kevin Hoss yang akan memimpin mulai April mendatang diprediksi akan mengambil langkah berani: menurunkan suku bunga meski inflasi masih tinggi.
Meski isu perang dagang agak tertutupi oleh berita konflik bersenjata, Ibrahim mencatat bahwa penerapan tarif tinggi mencapai 15 persen dengan negara mitra tetap berjalan. Jadi, tekanan dari sisi perdagangan juga belum reda.
Lalu, bagaimana dengan logam mulia? Di tengah gejolak nilai tukar ini, Ibrahim melihat tren menarik. Bank Sentral di berbagai negara justru ramai-ramai membeli emas sebagai instrumen lindung nilai. Uniknya, pelemahan rupiah kita justru jadi penahan agar harga emas dalam negeri tidak koreksi terlalu dalam.
“Karena kita lihat bahwa walaupun harganya turun, ini kesempatan terbaik bagi Bank Sentral Global untuk melakukan pembelian dengan harga yang relatif lebih murah. Dan harus diingat bahwa pelemahan logam mulia itu tertahan oleh pelemahan mata uang rupiah,”
ungkapnya.
Data pasar pun sudah menunjukkan sinyal pelemahan. Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,45 persen ke posisi Rp16.980 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan Jisdor Bank Indonesia, pelemahannya 0,32 persen harian ke Rp16.957.
Dengan semua faktor ini, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada Senin nanti akan fluktuatif. Tapi pada akhirnya, penutupannya diproyeksikan tetap melemah, berada di rentang Rp16.980 sampai Rp17.030 per dolar AS. Pekan depan, waspadai pergerakannya.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat di Awal Perdagangan, Optimisme AI dan Harapan Damai AS-Iran Jadi Pendorong
PT Segar Kumala Indonesia Alihkan Transaksi Impor ke Yuan China untuk Tekan Dampak Pelemahan Rupiah
Citra Tubindo Bagikan Dividen 21,78 Juta Dolar AS ke Pemegang Saham
PT BEEF Rombak Direksi dan Komisaris, Ari Wijayanto Ditunjuk sebagai Dirut Baru