Harga minyak kembali meroket, Kamis kemarin. Kenaikan ini menandai pembalikan tajam dari penurunan sehari sebelumnya, seiring dengan pudarnya harapan perdamaian di Timur Tengah dalam waktu dekat. Sentimen pasar berubah begitu cepat.
Kontrak berjangka minyak Brent melonjak 5,7 persen, menembus level USD108,01 per barel. Sementara itu, minyak acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), juga naik 4,6 persen ke posisi USD94,48 per barel. Yang menarik, volume perdagangan untuk kontrak Brent bulan terdepan justru tercatat paling rendah sejak akhir Februari lalu tepatnya sehari sebelum AS dan Israel memulai serangan ke Iran.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Tampaknya, kabar dari meja perundingan justru memicu ketidakpastian. Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, mengonfirmasi bahwa Washington telah menyodorkan "daftar aksi 15 poin" kepada Iran sebagai dasar negosiasi. Namun, respons dari Teheran terasa dingin.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan pihaknya sedang meninjau proposal tersebut. Tapi, kata kuncinya: belum ada pembicaraan serius tentang gencatan senjata. Bahkan, seorang pejabat senior Iran yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters bahwa proposal AS itu "sepihak dan tidak adil".
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump punya narasi berbeda. Ia menyebut Iran telah menawarkan izin bagi 10 kapal tanker minyak untuk melintasi Selat Hormuz. Menurutnya, ini adalah isyarat itikad baik.
"Ada kebingungan dan frustrasi atas kebenaran berbagai informasi dari Amerika Serikat dan Iran. Investor kembali beralih ke aset yang lebih aman untuk menjaga modal," kata Timothy Snyder, Kepala Ekonom Matador Economics.
Di tengah kebingungan itu, langkah militer justru semakin nyata. Pentagon disebut-sebut berencana mengirim ribuan pasukan lintas udara ke kawasan Teluk. Tujuannya, memberi lebih banyak opsi bagi Trump untuk serangan darat. Ini adalah tambahan untuk dua kontingen Marinir yang sudah dalam perjalanan.
Tak mau kalah, kelompok Houthi di Yaman sekutu Iran menyatakan siap kembali menyerang jalur Laut Merah. Semua ini sebagai bentuk solidaritas.
"Eskalasi militer yang berlanjut, termasuk pengerahan pasukan dan serangan baru, serta pergerakan kapal tanker yang terbatas di bawah syarat ketat Iran, terus menekan pasar energi global," ujar Soojin Kim, seorang analis di MUFG.
Tekanan itu nyata. Perang ini hampir mematikan pengiriman melalui Selat Hormuz jalur vital yang biasa mengangkut seperlima pasokan minyak mentah dan LNG dunia. Badan Energi Internasional (IEA) menyebutnya sebagai gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah. Sejak konflik pecah, harga Brent telah melambung hampir 50 persen, sementara WTI naik 41 persen. Angka yang fantastis.
Isi proposal damai AS yang dikirim via Pakistan pun mulai terkuak. Menurut tiga sumber kabinet Israel, poin-poinnya mencakup penghapusan stok uranium Iran, penghentian pengayaan, pembatasan program rudal, hingga pengurangan pendanaan bagi sekutu regional Iran. Tapi bagi pejabat Iran, syarat itu tidak memenuhi standar minimum. Mereka menegaskan, meski diplomasi masih terbuka, belum ada rencana damai yang realistis di depan mata.
Faktor lain yang memperkeruh situasi datang dari Irak. Produksi minyak mereka dilaporkan menurun karena tangki penyimpanan sudah penuh dan mencapai level kritis. Padahal, Irak adalah produsen terbesar kedua di OPEC setelah Arab Saudi.
Belum lagi masalah di Rusia. Sekitar 40 persen kapasitas ekspor minyak mereka terhenti akibat serangan drone Ukraina dan penyitaan kapal tanker. Salah satu kilang terbesar mereka, Kirishinefteorgsintez, terpaksa menghentikan operasi Kamis lalu setelah serangan memicu kebakaran.
Namun begitu, di balik awan gelap, ada secercah cahaya. Sebuah kapal tanker asal Thailand berhasil melintasi Selat Hormuz setelah ada koordinasi diplomatik dengan Iran. Malaysia juga menyatakan kapal-kapalnya diizinkan melintas. Bahkan, Kedutaan Besar Iran di Spanyol menyebut mereka terbuka terhadap permintaan Madrid, karena Spanyol dianggap menghormati hukum internasional. Ini menjadi konsesi pertama Iran kepada negara Uni Eropa.
Prancis, di sisi lain, sudah mulai bergerak. Mereka menyatakan kepala militernya telah berdiskusi dengan sekitar 35 negara. Tujuannya: mencari mitra dan menyusun proposal untuk misi pembukaan kembali Selat Hormuz, nanti setelah perang usai. Sebuah persiapan untuk hari esok, sementara hari ini masih dipenuhi dentuman.
Artikel Terkait
10 Emiten dengan Konsentrasi Saham Tinggi Belum Lakukan Aksi Korporasi, BEI Tunggu Langkah Nyata
IHSG Anjlok 1,85 Persen ke 6.599, Seluruh Sektor Tertekan Aksi Jual Massif
IHSG Anjlok 1,85% ke 6.599, Terseret Aksi Jual Masif dan Pelemahan Rupiah
TGKA Bagikan Dividen Final Rp285 per Saham, Jadwal Pembayaran Awal Juni 2026