Pergerakan pasar hari itu benar-benar mencerminkan kebingungan kolektif. Investor seperti bermain petak umpat dengan berita-berita terkini. Setiap kabar, entah baik atau buruk, langsung direspons dengan jual atau beli yang impulsif. Meski banyak yang berharap konflik cepat berakhir, pesan yang saling bertolak belakang dari kedua pihak justru membebani mood pasar.
Menurut Keith Lerner, Kepala Strategi Pasar di Truist, situasi ini masih akan volatile.
"Resolusi cepat mungkin memicu reli kuat, walau awalnya bisa emosional," katanya. "Tapi kalau konfliknya berkepanjangan atau malah eskalasi, tekanan pada pasar akan terus ada. Apalagi jika harga energi bertahan di level tinggi atau suku bunga melonjak. Lihat saja hari ini, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah sekitar 10 basis poin saja sudah cukup membebani saham."
"Intinya, sampai ada kejelasan yang lebih konkret, volatilitas akan tetap digerakkan oleh berita utama, bukan fundamental perusahaan," tutur Lerner.
Memang, sehari sebelumnya suasana masih cukup optimis. Indeks sempat menguat karena ada harapan AS dan Iran mau duduk berunding. Tapi optimisme itu ternyata rapuh. Retorika keras Iran yang menolak proposal perdamaian AS, ditambah keraguan Trump, dengan cepat mengubah warna perdagangan. Kini, semua mata tertuju pada perkembangan di Timur Tengah dan setiap cuitan dari Washington.
Artikel Terkait
BEI Hentikan Sementara Perdagangan Saham Multipolar Technology Usai Anjlok 76%
Tambang Nikel Hengjaya di Morowali Dihentikan Sementara Usai Kecelakaan Kerja Tewaskan Pekerja
Harga Emas Anjlok 2,84%, Tertekan Dolar AS dan Ketegangan Timur Tengah
Harga Minyak Melonjak Lagi Usai Harapan Damai Timur Tengah Meredup